GAMBARAN PEMBERIAN
SUSU BOTOL PADA ANAK PRA
SEKOLAH TERHADAP RAMPAN KARIES DI TK PETIK MEULU KECAMATAN ULEE KARENG KOTA BANDA
ACEH TAHUN 2016
Oleh:
Andriani
ABSTRAK
Pemberian susu botol pada anak pra sekolah sepanjang hari
sejak anak bermain sampai waktu tidur sangat mempengaruhi terhadap terjadinya
rampan karies pada pengamatan awal yang dilakukan di TK Peutik Meulu Kecamatan
Ulee Kareng Kota Banda Aceh terdapat 20,49% mengalami rampan karies. Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui bagaimana pemberian susu botol pada anak prasekolah terhadap
rampan karies di TK Peutik Meulu Banda Aceh Tahun 2016. Menggunakan metode
deskriptif, dilaksanakan pada tanggal 05 s/d 07 April 2016. Sample adalah seluruh
orang tua anak pra sekolah yang berumur 4 tahun yang memberikan susu botol yang
berjumlah 31 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 28 murid anak prasekolah yang
pemberian susu botol dengan kategori
baik 1 murid (4%) yang mengalami rampan karies 0 dan yang tidak mengalami
rampan karies 1 murid (100%), sedangkan pemberian susu botol dengan kategori
kurang baik, 27 murid (96%) yang mengalami rampan karies 26 murid (96%) dan
yang tidak mengalami rampan karies 1 murid (4%). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa pemberian susu
botol dengan kategori baik dan kurang
baik tidak jauh berbeda dalam menyebabkan rampan karies. Diharapkan
pada ibu mempunyai anak prasekolah untuk
meningkatkan upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anaknya serta di
harapkan juga kepada puskesmas untuk memberikan penyuluhan kesehatan gigi dan
mulut tidak hanya di puskesmas tetapi juga di Sekolah .
Kata kunci: Pemberian
Susu Botol, Rampan
Karies
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Karies gigi merupakan
penyakit yang sering terjadi pada anak-anak. Di Amerika saja, yang sudah tergolong
maju, hasil survei menunjukkan bahwa penyakit karies gigi melanda 100% populasi
anak, mulai dari anak-anak yang memiliki gigi berlubang kecil, yang perlu
ditambal, serta yang telah di cabut. Prevalensi atau kasus terjadinya karies
gigi di antara bayi dan anak prasekolah
telah diteliti oleh banyak ahli, ternyata paling sedikit 25% karies gigi
terdapat pada anak yang berusia 2 tahun dan hampir banyak dua per tiga dari
seluruh jumlah anak-anak berusia 3 tahun menderita karies gigi (Koswara, 2008).
Anak prasekolah merupakan anak
yang berusia mulai 2,5 sampai 5 tahun yang ada umur anak tersebut masih
mempunyai gigi sulung (gigi susu). Pada balita dan anak prasekolah sering
dijumpai karies gigi yang menyeluruh (rampant
caries), persistensi dan keradangan gusi. Kehilangan gigi terlalu dini pada
anak prasekolah dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan gigi tetap dan
rahang anak tersebut. Keadaan ini dapat mengganggu fungsi kunyah dan estetika
wajah. Disamping itu penyakit gigi dan mulutnya dapat merupakan suatu sumber
infeksi (focal infection) terhadap sinus maxilaris, sinus frontalis, sinus
cavernosis, jantung, ginjal dan sebagainya (Depkes RI, 1995).
Anak prasekolah merupakan
kelompok rentan terhadap penyakit gigi dan mulut. Karena pada umumnya masih
mempunyai perilaku atau kebiasaan diri yang kurang menunjang terhadap
pemeliharaan kesehatan gigi dan mulutnya sendiri (Depkes RI, 1995). Akibat
kurangnya kesadaran dari orang tua terhadap pemeliharaan kebersihan gigi dan
mulut pada keluarga dan kebiasaan untuk mencari pengobatan setelah suatu
penyakit menjadi lebih parah, merupakan suatu yang kerap terjadi. Dan juga
kebanyakan orang beranggapan bahwa gigi sulung tidak perlu dirawat karena akan
diganti dengan gigi tetap. Keadaan gigi susu yang dijumpai di klinik biasanya
dalam keadaan sudah parah, sehingga anak menderita sakit gigi dengan selaga
macam akibat yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak (Suwelo,
1992).
Indonesia belum mempunyai data
tentang prevalensi karies gigi sulung balita, meskipun hasil observasi lapangan
menunjukkan adanya karies rampan gigi sulung yang cukup luas. Demikian juga
belum ada laporan mengenai prevalensi karies gigi sulung di tempat-tempat
dengan situasi dan kondisi berbeda, pada hal frekuensi karies gigi sulung
merupakan indikator kesehatan gigi balita yang diperlukan untuk menilai keadaan
kesehatan gigi sekaligus juga keberhasilan upaya kesehatan gigi balita (Suwelo,
1992).
Pada umumnya susu botol diberikan
pada balita sepanjang hari sejak anak bermain sampai waktu tidur. Efek dari
tindakan ini adalah bila gigi-gigi anak sudah bererupsi pada bulan ke-6 akan
terjadi insiden rampan karies yang tinggi (Forrest,1995). Besar kecilnya
pengaruh resiko terhadap timbulnya karies gigi sulung anak usia prasekolah yang
dipengaruhi oleh pengetahuan, kesadaran dan kebiasaan orang tua dalam merawat
gigi. Kurangnya perhatian terhadap gigi sulung tidak perlu dirawat karena akan
diganti dengan gigi tetap. Keadaan gigi sulung yang dijumpai di klinik biasanya
sudah parah, sehingga anak menderita sakit gigi dengan segala macam akibat yang
akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak (Suwelo, 1992).
Berdasarkan Pemeriksaan awal yang peneliti
laksanakan di TK Peutik Meulu kecamatan Ulee Kareung Aceh Tahun 2016, di temukan bahwa 20,49% anak menderita rampan
karies.
B. Rumusan
Masalah
Bagaimana
“Gambaran Pemberian Susu Botol Pada Anak Prasekolah Terhadap Rampan Karies di
TK Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2016”.
C. Tujuan Penelitian
1.
Tujuan Umum
Untuk mengetahui
Gambaran pemberian Susu Botol Pada Anak Prasekolah Terhadap Rampan Karies di TK
Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2016.
2.
Tujuan Khusus
a.
Untuk mengetahui gambaran
pemberian susu botol pada anak prasekolah di TK Peutik Meulu Kecamatan Ulee
Kareng Kota Banda
Aceh Tahun 2016
b.
Untuk mengetahui gambaran rampan
karies pada anak prasekolah di TK Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2016
D. Manfaat Penelitian
1.
Dapat memberikan tambahan
pengetahuan mengenai kesehatan gigi.
2.
Hasil penelitian ini dapat
dipergunakan sebagai bahan referensi bagi mahasiswa Jurusan Keperwatan Gigi Poltekkes Kemenkes
Aceh.
3.
Dapat digunakan sebagai masukan
atau bahan informasi tentang keadaan kesehatan gigi dan mulut anak prasekolah
di TK Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh tahun 2016
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep
Rampan Karies
adalah karies yang
timbul dengan proses
yang sangat cepat, menyebar luas
dan bahkan dapat
menyebabkan pulpa terkena dan
mengenai semua permukaan gigi
(Tarigan, 1990). Pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut pada anak
usia prasekolah agar terhindar terjadinya rampan karies karena rampan karies
sangat sering terjadi pada anak usia prasekolah (Maulani, 2005).
Aspek yang mempengaruhi
terjadinya rampan karies pada anak prasekolah adalah pemberian susu botol.
![]() |
|
B. Variabel Penelitian
Variabel
penelitian yang digunakan :
1.
Pemberian susu botol
2.
Rampan karies
C.
Definisi Operasional
|
No
|
Variabel
|
Definisi Operasional
|
Cara Ukur
|
Alat Ukur
|
Hasil Ukur
|
Skala Ukur
|
|
1.
|
Pemberian
susu botol.
|
Cara memberikan susu botol pada anak prasekolah dengan
menggunakan dot dan botol
|
Wawancara
|
Kuesioner
|
-
Baik
-
Kurang
baik
|
Ordinal
|
|
No
|
Variabel
|
Definisi Operasional
|
Cara Ukur
|
Alat Ukur
|
Hasil Ukur
|
Skala Ukur
|
|
1.
|
Rampan
karies
|
Karies yang timbul dengan proses yang sangat cepat,
menyebar luas dan bahkan dapat menyebabkan pulpa terkena dan mengenai semua
permukaan gigi.
|
Pemeriksaan
|
Kartu Status Pasien
(KSP)
Diagnosa
set
|
-
Ada
-
Tidak
|
Ordinal
|
METODE PENELITIAN
A.
Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat
deskriptif, untuk mengetahui
Gambaran Pemberian Susu Botol Pada Anak
Prasekolah Terhadap Rampan Karies di TK Peutik Meulu Kota Banda Aceh Tahun 2016.
B.
Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian
dilaksanakan di TK Peutik Meulu
Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2016
2. Waktu
Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan pada tanggal 05 sampai
dengan 07 April 2016
C.
Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasinya
adalah seluruh anak prasekolah usia 4
tahun dan responden orang tua yang memberikan
susu botol di TK Peutik Meulu kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2016
2. Sampel
Sampel
dalam penelitian ini adalah total
populasi yaitu seluruh
anak prasekolah di TK Peutik Meulu
Kecamatan Ulee kareng Kota Banda Aceh tahun
20
D.
Instrumen Penelitian
Untuk mendukung penelitian
ini, maka digunakan instrumen penelitian
yaitu alat diagnosa, kuesioner, dan kartu
status pasien.
- Cara Pengumpulan Data
1. Data primer
Data tentang pemberian susu botol diperoleh langsung
dengan melakukan pemeriksaan gigi anak pada anak prasekolah dan pemberian
kuesioner pada orang tua atau ibu anak prasekolah.
2. Data sekunder
Data jumlah anak
prasekolah di TK Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota
Banda Aceh Tahun 2016
F. Pengolahan dan Analisa Data
1. Pengolahan
data
Setelah
data berhasil dikumpulkan langkah selanjutnya yang dilakukan adalah mengolah
data sehingga jelas sifat-sifat yang dimiliki oleh data tersebut. Proses pengolahan
data dilakukan dengan menggunakan beberapa tahap sebagai berikut :
a. Editing
Pada tahap ini data dikumpulkan dan diperiksa kembali
apakah telah lengkap jawabannya atau tidak, memeriksa nama dan identitas
responden, data yang diberikan berkesinambungan atau tidak dalam arti tidak
ditemukan data yang bertentangan satu sama lain.
b. Coding
pada tahap ini data yang di peroleh pada penelitian di kumpulkan dan beri kode tertentu.
c. Tabulating
Pada tahap ini data dikelompokkan ke dalam tabel tertentu
menurut sifat yang dimiliki sesuai tujuan penelitian.
2. Analisis Data
Data yang didapatkan
dari hasil kuesioner dianalisis secara deskriptif berdasarkan tabel distribusi
frekuensi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan pada tanggal 05 sampai dengan 07 April
tahun 2016 di TK Peutik Meulu
Kecamatanm Ulee Kareng Kota
Banda Aceh. Sampel
pada penelitian ini adalah seluruh anak prasekolah yang ada di TK Peutik Meulu
Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda
Aceh sebanyak 31 orang. Pengumpulan data di peroleh dari kuesioner yang di
berikan pada 31 orang tua anak prasekolah pemeriksaan status karies gigi pada
anak prasekolah.
I.
Data Umum
a.
Jenis kelamin
Tabel 1
Distribusi Frekuensi
Anak Prasekolah Berdasarkan Jenis Kelamin di TK. Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda
Aceh Tahun 2016
|
No.
|
Jenis kelamin
|
Frekuensi
|
%
|
|
1.
|
Laki-laki
|
13
|
42
|
|
2.
|
Perempuan
|
18
|
58
|
|
Jumlah
|
31
|
100
|
|
Berdasarkan tabel 1 di atas dapat
di lihat anak prasekolah yang berjenis
kelamin perempuan sebanyak 18 murid (58%) di bandingkan dengan anak prasekolah
yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 13 orang (42%).
II. Data khusus
a.
Pemberian susu botol
Tabel 2
Distribusi Frekuensi
Anak Prasekolah Berdasarkan Pemberian Susu Botol di TK. Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda
Aceh Tahun 2016
|
No.
|
Anak prasekolah yang mengkonsumsi susu botol
|
Frekuensi
|
%
|
|
1.
|
Ada
|
28
|
90
|
|
2.
|
Tidak
|
3
|
10
|
|
Jumlah
|
31
|
100
|
|
Berdasarkan tabel 2 di atas dapat di lihat dari 31
murid ternyata 28 (90%) murid yang mengkonsumsi susu botol, dan
3 (10 %) murid yang tidak mengkonsumsi susu botol.
b.
Cara pemberian susu botol
Tabel 3
Distribusi Responden
Anak Prasekolah Berdasarkan
Pemberian Susu
Botol di
TK. Peutik Meulu
Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2016
|
No.
|
Pemberian susu botol
|
Frekuensi
|
%
|
|
1.
|
Baik
|
1
|
4
|
|
2.
|
Kurang baik
|
27
|
96
|
|
Jumlah
|
28
|
100
|
|
Berdasarkan
tabel 3 di atas dapat dilihat
bahwa dari 28 murid yang mengkonsumsi susu botol dengan pemberian
susu botol dengan kategori baik 1 murid (4%), dan pemberian susu botol dengan
kategori kurang baik 27 murid (96%).
c.
Rampan Karies
Tabel 4
Distribusi Frekuensi
Anak Prasekolah Berdasarkan Ada Tidaknya Rampan Karies yang Mengkonsumsi Susu
Botol di TK. Peutik Meulu
Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2016
|
No.
|
Rampan karies
|
Frekuensi
|
%
|
|
1.
|
Ada
|
26
|
93
|
|
2.
|
Tidak
|
2
|
7
|
|
Jumlah
|
28
|
100
|
|
Berdasarkan tabel 4 di atas dapat di
lihat bahwa dari 28 Murid dengan
pemberian susu botol ternyata 26 (93%)
yang mengalami rampan karies dan yang tidak mengalami rampan karies 2 (7%)
murid.
d.
Cara pemberian susu botol pada
anak prasekolah terhadap rampan karies
Tabel 5
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Cara Pemberian Susu
Botol Pada Anak Prasekolah Terhadap Terjadi Rampan Karies di TK. Peutik Meulu Kecamatan Meuraxa Kota Banda
Aceh Tahun 2016
|
No.
|
Cara Pemberian Susu Botol
|
Rampan Karies
|
Jumlah
|
%
|
|||
|
Ada
|
Tidak
|
||||||
|
Jumlah
|
%
|
Jumlah
|
%
|
||||
|
1.
|
Baik
|
0
|
0
|
1
|
100
|
1
|
100
|
|
2.
|
Kurang baik
|
26
|
96
|
1
|
4
|
27
|
100
|
Berdasarkan tabel 5 di atas dapat
dilihat bahwa dari 28 murid anak prasekolah pemberian susu botol 1 murid (4%)
dengan kategori baik yang mengalami
rampan karies 0 dan yang tidak mengalami rampan karies 1 murid (100%).
Pemberian susu botol dengan kategori kurang baik 27 murid (96%) yang mengalami
rampan karies 26 murid(96%) dan yang
tidak mengalami rampan karies 1 murid (4%).
A. Pembahasan
Berdasarkan penelitian terhadap 31 anak prasekolah di TK. Peutik Meulu
Kota
Banda Aceh Tahun 2016 ternyata pada tabel 1 anak Presekolah yang
berjenis kelamin Perempuan lebih besar berjumlah 18 murid (58%) di bandingkan
dengan jumlah berjenis kelamin laki-
laki berjumlah 13 murid (42%), berdasarkan
tabel 2 dapat di lihat bahwa anak prasekolah yang mengkonsumsi susu botol
28 murid (90%) yang tidak mengkonsumsi susu 3 murid (10%).
Berdasarkan tabel 3 bahwa
pemberian susu botol dengan kategori kurang baik sebanyak 27 murid (96%),
sedangkan kategori baik 1 murid (4%). Pada tabel 4 dapat dilihat berdasarkan
pemberian susu botol yang mengalami rampan karies 26 murid (93%) dan yang tidak
mengalami rampan karies 2 murid (7%). Menurut asumsi penulis pemberian
susu botol sambil
tidur lebih dari
tiga kali sehari dan
diberikan sepanjang hari
dan waktu sore
kurang baik anak mengkonsumsinya karena
membuat gigi anak
cepat proses terjadi
rampan karies. Sebaiknya anak dibiasakan minum susu tiga kali sehari dan
dapat diselangi dengan makanan padat lainnya dan sebaiknya minum susu anak
diberikan air putih agar mencegah terjadinya rampan karies. Tingginya rampan
karies pada anak usia prasekolah, menunjukan bahwa orang tua kurang
memperhatikan hal hal yang menyangkut kesehatan gigi anaknya yang akhirnya
dapat mempercepat terjadinya rampan karies. Pentingnya menjaga kebersihan gigi
anak usia prasekolah agar terhindar rampan karies karena rampan karies sangat
sering terjadi pada anak usia sekolah terlebih yang mengkonsumsi susu botol
dalam waktu yang lama. Posisi anak tertidur dengan botol atau dot dalam rongga
mulut maka cairan manis akan membasahi permukaan gigi sulung pada keadaan
tersebut jumlah aliran saliva menurun dan kualitas saliva mengental sehingga
efek pembersihan saliva berkurang, dengan demikian akan meningkat kualitas
kariogenik, hasil fermentasi antara sukrosa dan bakteri menurunkan pH saliva
sehingga mengalami demineralisasi email dan akhirnya menjadi karies. Bahwa
kurangnya pengetahuan orang tua tentang cara pemberian susu botol yang baik
untuk anak prasekolah yaitu dalam keadaan di pangku orang tua sehingga mereka
tidak begitu dekat dengan susu botol karena mereka sudah mendapatkan kasih
sayang dari orang tua pada saat memberikan susu. Upaya pencegahan terjadinya
rasupan karies sebaiknya jangan dibiasakan anak minum susu dari botol sampai
tertidur beri minum air putih saja
setelah minum susu latih anak untuk selalu mengunyah makanan sendini mungkin
dengan memperhatikan peningkat tekstur makanan yang diberi sesuai perkembangan
usia anak (Afrilina, 2006).
Dari hasil penelitian tersebut
dapat diketahui bahwa pemberian susu botol sangat mempengaruhi terhadap
terjadinya rampan karies anak terutama pada anak prasekolah yang masih
mengkonsumsi susu botol dalam waktu lama sampai tertidur, karena cepat proses
karies ini terjadi karena paparan terus menerus antara gigi dengan susu pada
anak yang minum menggunakan botol pH yang turun (pH normal=7), Sulit untuk
netral dan karies berkembang biak dengan cepat (Maulani,2005).
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Dari 28 murid yang diberikan susu
botol yang terkena rampan karies 26 murid (93%) dan tidak terkena rampan karies
2 murid (7%)
2.
Pemberian susu botol dengan
kategori kurang baik sebanyak 27 murid (96%) sedangkan kategori baik 1 murid
(4%).
B.
Saran
Diharapkan kepada orang tua lebih meningkat
pemeliharaan dan pengetahuan terhadap pemberian susu botol pada anak prasekolah
sehingga mencegah terjadinya rampan karies.
.
DAFTAR PUSTAKA
Adelina, Barus. 2012. Kesehatan
Gigi Dan Mulut Yang Efektif Dalam Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Anak Sekolah
Dasar Widuri Lebak Bulus Jakarta Selatan 2012. hal. 3,14. Poltekkes Jakarta.
Jakarta Selatan.
www.poltekkesjakarta1.ac.id Budiharto, 2010. Pengantar Ilmu Perilaku Kesehatan dan Pendidikan
Kesehatan Gigi.
hal.4, 17-19.
EGC. Jakarta
Daranita, Jamaris. 2009. Hubungan pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut,
sikap dan tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dengan status kebersihan gigi
dan mulut pada anak
usia 9 – 12 tahun di SDN Maccini I,II,III,IV dan SD Inpres Maccini I/I Makassar. Makassar:
Universitas Hasanuddin
Dewanti,
2012. Hubungan Tingkat Pengetahuan
Tentang Kesehatan Gigi dengan Perilaku Perawatan Gigi Pada Anak Usia Sekolah Di
SDN Pondok Cina 4 Depok. hal. 45. Fakultas Ilmu Keperawatan. Universitas
Indonesia. Depok
Fitriani, 2011. Promosi
Kesehatan. hal.48. Graha Ilmu. Yogyakarta
Herijulianti, dkk. 2012. Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan Jaringan Pendukung
Gigi. hal. 91-97. EGC.
Jakarta
Kusumawardani,
Endah. 2011. Buruknya Kesehatan Gigi Dan
Mulut. hal. 5, 40, 45-47. Cetakan I. SIKLUS. Yogyakarta
Machfoedz,
2008. Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Anak-Anak Ibu
Hamil.
hal. 105, 110. Fitramaya.
Yogyakarta
Mubarak,
2007. Promosi Kesehatan. hal. 29.
Graha Ilmu. Yogyakarta
Notoatmodjo,
2011. Kesehatan Masyarakat. hal.
147-149. PT.
Rineka Cipta. Jakarta
Nursalam,
2011. Konsep dan Penerapan Metodelogi
Penelitian Ilmu Keperawatan. Hal. 120. Salemba Medika. Jakarta Selatan.
Pandelaki, dkk.
2013. Hubungan Pengetahuan Kebersihan
Gigi dan Mulut dengan Status Kebersihan Gigi dan Mulut pada Siswa Sma Negeri 9 Manado. hal. 84. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Sam Ratulangi Manado
core.ac.uk/download/pdf/16508785.pdf
Pratiwi,
2009. Gigi Sehat dan Cantik.
hal 35-38, 64-65, 74-79. PT
Kompas Media Nusantara. Jakarta.
Riskesdas. 2013. hal. 110-111. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Jakarta
Saleh, 2012. Hubungan
Pengetahuan Ibu Tentang Kesehatan Gigi Dan Mulut Dalam Pemeliharaan Kesehatan
Gigi Anak SD PAO Kelas III, IV, Dan V Kec. Mattirobulu Kab. Pinrang Tahun 2012.
hal. 40. Poltekkes Makassar Jurusan Keperawatan Gigi. Makassar
Septa,
2012. Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan
Kesehatan Gigi Di Puskesmas Watampone Kab. Bone Setelah Ditetapkan Program
Kesehatan Gratis. hal. 27. Poltekkes
Makassar Jurusan Keperawatan Gigi. Makassar2012.
Efek
Penyuluhan Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Penurunan Indeks Plak Pada Murid
Kelas IV Dan V Di SDN 2 Maddukkelleng Ungguan Kabupaten Wajo. hal. 6. Poltekkes Makassar Jurusan Keperawatan Gigi. Makassar
Tuhuteru, 2014. Status
Kebersihan Gigi Dan Mulut Pasien Poli Klinik Gigi Puskesmas Paniki Bawah Manado,
Jurnal E-Gigi, Vol 2, No.2, Fakultas
Kedokteran Gigi. Universitas
Sam Ratulangi Manado
Yauri, 2012. Hubungan Penggunaan Sikat Gigi Dengan Bulu
Sikat Yang Telah Lama Digunakan Terhadap Timbulnya Gingivitis Di Sd Negeri 1
Pulau Baling Lompo Kecamatan Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkep Tahun 2012.
hal. 33. Poltekkes Makassar Jurusan Keperawatan Gigi.
Makassar
Yundali,
H. 2012. Kesehatan Gigi dan Mulut. hal. 59, 72,
81-86.Pustaka
Reka Cipta. Jawa Barat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar