Selasa, 28 Juni 2016

Andriani: Volume 3, Nomor 2, Januari-Juni 2016, hal. 15-24

GAMBARAN PEMBERIAN SUSU BOTOL PADA ANAK  PRA SEKOLAH TERHADAP RAMPAN KARIES  DI TK PETIK MEULU KECAMATAN ULEE KARENG KOTA BANDA ACEH TAHUN 2016

Oleh:
Andriani

ABSTRAK
Pemberian susu botol pada anak pra sekolah sepanjang hari sejak anak bermain sampai waktu tidur sangat mempengaruhi terhadap terjadinya rampan karies pada pengamatan awal yang dilakukan di TK Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh terdapat 20,49% mengalami rampan karies. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pemberian susu botol pada anak prasekolah terhadap rampan karies di TK Peutik Meulu  Banda Aceh Tahun 2016.   Menggunakan metode deskriptif, dilaksanakan pada tanggal 05 s/d 07 April 2016. Sample adalah seluruh orang tua anak pra sekolah yang berumur 4 tahun yang memberikan susu botol yang berjumlah 31 orang. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa dari 28 murid anak prasekolah yang pemberian susu botol dengan  kategori baik 1 murid (4%) yang mengalami rampan karies 0 dan yang tidak mengalami rampan karies 1 murid (100%), sedangkan pemberian susu botol dengan kategori kurang baik, 27 murid (96%) yang mengalami rampan karies 26 murid (96%) dan yang tidak mengalami rampan karies 1 murid (4%).  Kesimpulan dari penelitian ini bahwa pemberian susu botol dengan kategori baik dan kurang  baik tidak jauh berbeda dalam menyebabkan rampan karies. Diharapkan pada  ibu mempunyai anak prasekolah untuk meningkatkan upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anaknya serta di harapkan juga kepada puskesmas untuk memberikan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut tidak hanya di puskesmas tetapi juga di Sekolah .

Kata kunci: Pemberian Susu Botol, Rampan Karies  

PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Karies gigi merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak-anak. Di Amerika saja, yang sudah tergolong maju, hasil survei menunjukkan bahwa penyakit karies gigi melanda 100% populasi anak, mulai dari anak-anak yang memiliki gigi berlubang kecil, yang perlu ditambal, serta yang telah di cabut. Prevalensi atau kasus terjadinya karies gigi di antara bayi dan anak prasekolah telah diteliti oleh banyak ahli, ternyata paling sedikit 25% karies gigi terdapat pada anak yang berusia 2 tahun dan hampir banyak dua per tiga dari seluruh jumlah anak-anak berusia 3 tahun menderita karies gigi (Koswara, 2008).
Anak prasekolah merupakan anak yang berusia mulai 2,5 sampai 5 tahun yang ada umur anak tersebut masih mempunyai gigi sulung (gigi susu). Pada balita dan anak prasekolah sering dijumpai karies gigi yang menyeluruh (rampant caries), persistensi dan keradangan gusi. Kehilangan gigi terlalu dini pada anak prasekolah dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan gigi tetap dan rahang anak tersebut. Keadaan ini dapat mengganggu fungsi kunyah dan estetika wajah. Disamping itu penyakit gigi dan mulutnya dapat merupakan suatu sumber infeksi (focal infection) terhadap sinus maxilaris, sinus frontalis, sinus cavernosis, jantung, ginjal dan sebagainya (Depkes RI, 1995).
Anak prasekolah merupakan kelompok rentan terhadap penyakit gigi dan mulut. Karena pada umumnya masih mempunyai perilaku atau kebiasaan diri yang kurang menunjang terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulutnya sendiri (Depkes RI, 1995). Akibat kurangnya kesadaran dari orang tua terhadap pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut pada keluarga dan kebiasaan untuk mencari pengobatan setelah suatu penyakit menjadi lebih parah, merupakan suatu yang kerap terjadi. Dan juga kebanyakan orang beranggapan bahwa gigi sulung tidak perlu dirawat karena akan diganti dengan gigi tetap. Keadaan gigi susu yang dijumpai di klinik biasanya dalam keadaan sudah parah, sehingga anak menderita sakit gigi dengan selaga macam akibat yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak (Suwelo, 1992).
Indonesia belum mempunyai data tentang prevalensi karies gigi sulung balita, meskipun hasil observasi lapangan menunjukkan adanya karies rampan gigi sulung yang cukup luas. Demikian juga belum ada laporan mengenai prevalensi karies gigi sulung di tempat-tempat dengan situasi dan kondisi berbeda, pada hal frekuensi karies gigi sulung merupakan indikator kesehatan gigi balita yang diperlukan untuk menilai keadaan kesehatan gigi sekaligus juga keberhasilan upaya kesehatan gigi balita (Suwelo, 1992).
Pada umumnya susu botol diberikan pada balita sepanjang hari sejak anak bermain sampai waktu tidur. Efek dari tindakan ini adalah bila gigi-gigi anak sudah bererupsi pada bulan ke-6 akan terjadi insiden rampan karies yang tinggi (Forrest,1995). Besar kecilnya pengaruh resiko terhadap timbulnya karies gigi sulung anak usia prasekolah yang dipengaruhi oleh pengetahuan, kesadaran dan kebiasaan orang tua dalam merawat gigi. Kurangnya perhatian terhadap gigi sulung tidak perlu dirawat karena akan diganti dengan gigi tetap. Keadaan gigi sulung yang dijumpai di klinik biasanya sudah parah, sehingga anak menderita sakit gigi dengan segala macam akibat yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak (Suwelo, 1992).
Berdasarkan Pemeriksaan awal yang peneliti laksanakan di TK Peutik Meulu kecamatan Ulee Kareung  Aceh Tahun 2016,  di temukan bahwa 20,49% anak menderita rampan karies.

B.     Rumusan Masalah
Bagaimana “Gambaran Pemberian Susu Botol Pada Anak Prasekolah Terhadap Rampan Karies di TK Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2016”.
C.     Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran pemberian Susu Botol Pada Anak Prasekolah Terhadap Rampan Karies di TK Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2016.
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui gambaran pemberian susu botol pada anak prasekolah di TK Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2016
b.      Untuk mengetahui gambaran rampan karies pada anak prasekolah di TK Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2016

D.     Manfaat Penelitian
1.      Dapat memberikan tambahan pengetahuan mengenai kesehatan gigi.
2.      Hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai bahan referensi bagi mahasiswa Jurusan Keperwatan Gigi Poltekkes Kemenkes Aceh.
3.      Dapat digunakan sebagai masukan atau bahan informasi tentang keadaan kesehatan gigi dan mulut anak prasekolah di TK Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh tahun 2016

KERANGKA KONSEP
A.       Kerangka Konsep
Rampan  Karies  adalah  karies  yang  timbul  dengan  proses  yang  sangat  cepat, menyebar  luas  dan  bahkan  dapat  menyebabkan  pulpa terkena  dan  mengenai  semua permukaan  gigi  (Tarigan, 1990). Pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut pada anak usia prasekolah agar terhindar terjadinya rampan karies karena rampan karies sangat sering terjadi pada anak usia prasekolah (Maulani, 2005).                   
Aspek yang mempengaruhi terjadinya rampan karies pada anak prasekolah adalah pemberian susu botol.
Rampan Karies
 
 



B.   Variabel Penelitian
Variabel penelitian yang digunakan :
1.      Pemberian susu botol
2.      Rampan karies
                                                       
 C.   Definisi Operasional
No
Variabel
Definisi Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala Ukur
1.





Pemberian susu botol.






Cara memberikan susu botol pada anak prasekolah dengan menggunakan dot  dan  botol
Wawancara
Kuesioner
-     Baik
-     Kurang baik      
Ordinal






No
Variabel
Definisi Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala Ukur
1.
Rampan karies
Karies yang timbul dengan proses yang sangat cepat, menyebar luas dan bahkan dapat menyebabkan pulpa terkena dan mengenai semua permukaan gigi.
Pemeriksaan
 Kartu Status Pasien (KSP)
Diagnosa set
-    Ada
-    Tidak
Ordinal

METODE PENELITIAN
A.     Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif,  untuk mengetahui Gambaran  Pemberian Susu Botol Pada Anak Prasekolah Terhadap Rampan Karies di TK Peutik Meulu Kota Banda Aceh Tahun 2016.
B.     Tempat dan Waktu Penelitian
1.   Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan  di TK Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2016
2.   Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan  pada tanggal 05 sampai dengan  07 April 2016

C.     Populasi dan Sampel
1.   Populasi
Populasinya adalah  seluruh anak prasekolah usia 4 tahun dan responden  orang tua yang memberikan susu botol di TK Peutik Meulu kecamatan Ulee Kareng  Kota Banda Aceh Tahun 2016
2.   Sampel
Sampel dalam penelitian  ini  adalah total  populasi  yaitu  seluruh  anak  prasekolah di  TK  Peutik Meulu Kecamatan Ulee kareng Kota  Banda Aceh  tahun  20

D.     Instrumen Penelitian
Untuk mendukung penelitian ini,  maka digunakan instrumen penelitian yaitu alat diagnosa, kuesioner, dan kartu  status pasien.

  1. Cara Pengumpulan Data
1.      Data primer
Data tentang pemberian susu botol diperoleh langsung dengan melakukan pemeriksaan gigi anak pada anak prasekolah dan pemberian kuesioner pada orang tua atau ibu anak prasekolah.
2.      Data sekunder
Data  jumlah anak prasekolah di TK Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun  2016
F.   Pengolahan dan Analisa Data

1.   Pengolahan data
Setelah data berhasil dikumpulkan langkah selanjutnya yang dilakukan adalah mengolah data sehingga jelas sifat-sifat yang dimiliki oleh data tersebut. Proses pengolahan data dilakukan dengan menggunakan beberapa tahap sebagai berikut :
a.   Editing
Pada tahap ini data dikumpulkan dan diperiksa kembali apakah telah lengkap jawabannya atau tidak, memeriksa nama dan identitas responden, data yang diberikan berkesinambungan atau tidak dalam arti tidak ditemukan data yang bertentangan satu sama lain.
b.   Coding 
pada tahap ini data yang di peroleh  pada penelitian di kumpulkan  dan beri kode tertentu.
c.   Tabulating
Pada tahap ini data dikelompokkan ke dalam tabel tertentu menurut sifat yang dimiliki sesuai tujuan penelitian.
2.   Analisis Data
Data yang didapatkan dari hasil kuesioner dianalisis secara deskriptif berdasarkan tabel distribusi frekuensi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.     Hasil Penelitian
Penelitian ini  dilaksanakan  pada tanggal 05 sampai dengan 07 April  tahun  2016 di TK Peutik Meulu Kecamatanm Ulee Kareng Kota Banda Aceh. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh anak prasekolah yang ada di TK Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh sebanyak 31 orang. Pengumpulan data di peroleh dari kuesioner yang di berikan pada 31 orang tua anak prasekolah pemeriksaan status karies gigi pada anak prasekolah.

I.        Data Umum
a.       Jenis kelamin
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Anak Prasekolah Berdasarkan Jenis Kelamin di        TK. Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2016

No.
Jenis kelamin
Frekuensi
%
1.       
Laki-laki
13
42
2.       
Perempuan
18
58
Jumlah
31
100

Berdasarkan tabel 1 di atas dapat di lihat anak prasekolah  yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 18 murid (58%) di bandingkan dengan anak prasekolah yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 13 orang (42%).
II.  Data khusus
a.       Pemberian susu botol
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Anak Prasekolah Berdasarkan Pemberian Susu Botol di TK. Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun  2016

No.
Anak prasekolah yang mengkonsumsi susu botol 
Frekuensi
%
1.       
Ada
28
90
2.       
Tidak
3
10
Jumlah
31
100
Berdasarkan  tabel 2 di atas dapat di lihat dari 31 murid  ternyata 28  (90%) murid yang mengkonsumsi susu botol, dan 3 (10 %) murid yang tidak mengkonsumsi susu botol.
b.      Cara pemberian susu botol
Tabel 3
Distribusi Responden Anak Prasekolah Berdasarkan
Pemberian Susu Botol  di  TK. Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh Tahun 2016

No.
Pemberian susu botol
Frekuensi
%
1.       
Baik
1
4
2.       
Kurang baik
27
96
Jumlah
28
100
Berdasarkan tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa  dari 28 murid  yang mengkonsumsi susu botol dengan pemberian susu botol dengan kategori baik 1 murid (4%), dan pemberian susu botol dengan kategori kurang baik 27 murid (96%).
c.       Rampan Karies
Tabel 4
Distribusi Frekuensi Anak Prasekolah Berdasarkan Ada Tidaknya Rampan Karies yang Mengkonsumsi Susu Botol di TK. Peutik Meulu Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh  Tahun 2016

No.
Rampan karies
Frekuensi
%
1.       
Ada
26
93
2.       
Tidak
2
7
Jumlah
28
100

            Berdasarkan tabel 4 di atas dapat di lihat bahwa dari 28 Murid dengan pemberian susu  botol ternyata 26 (93%) yang mengalami rampan karies dan yang tidak mengalami rampan karies 2 (7%) murid.
d.      Cara pemberian susu botol pada anak prasekolah terhadap  rampan karies
Tabel 5
Distribusi  Frekuensi Berdasarkan Cara Pemberian Susu Botol  Pada Anak Prasekolah Terhadap  Terjadi Rampan Karies di TK. Peutik Meulu Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh Tahun  2016

No.
Cara Pemberian Susu Botol
Rampan Karies
Jumlah
%
Ada
Tidak
Jumlah
%
Jumlah
%
1.       
Baik
0
0
1
100
1
100
2.       
Kurang baik
26
96
1
4
27
100
Berdasarkan tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa dari 28 murid anak prasekolah pemberian susu botol 1 murid (4%) dengan kategori baik  yang mengalami rampan karies 0 dan yang tidak mengalami rampan karies 1 murid (100%). Pemberian susu botol dengan kategori kurang baik 27 murid (96%) yang mengalami rampan karies  26 murid(96%) dan yang tidak mengalami rampan karies 1 murid (4%). 
A.     Pembahasan
 Berdasarkan penelitian  terhadap 31 anak prasekolah di TK. Peutik Meulu Kota Banda Aceh Tahun  2016  ternyata pada tabel 1 anak Presekolah yang berjenis kelamin Perempuan lebih besar berjumlah 18 murid (58%) di bandingkan dengan jumlah  berjenis kelamin laki- laki berjumlah 13 murid (42%), berdasarkan  tabel 2 dapat di lihat bahwa anak prasekolah yang mengkonsumsi susu botol 28 murid (90%) yang tidak mengkonsumsi susu 3 murid (10%).
Berdasarkan tabel 3 bahwa pemberian susu botol dengan kategori kurang baik sebanyak 27 murid (96%), sedangkan kategori baik 1 murid (4%). Pada tabel 4 dapat dilihat berdasarkan pemberian susu botol yang mengalami rampan karies 26 murid (93%) dan yang tidak mengalami rampan karies 2 murid (7%). Menurut asumsi penulis  pemberian  susu  botol  sambil  tidur  lebih  dari  tiga kali  sehari  dan  diberikan  sepanjang  hari  dan  waktu  sore  kurang  baik anak  mengkonsumsinya  karena  membuat  gigi  anak  cepat  proses  terjadi  rampan karies. Sebaiknya anak dibiasakan minum susu tiga kali sehari dan dapat diselangi dengan makanan padat lainnya dan sebaiknya minum susu anak diberikan air putih agar mencegah terjadinya rampan karies. Tingginya rampan karies pada anak usia prasekolah, menunjukan bahwa orang tua kurang memperhatikan hal hal yang menyangkut kesehatan gigi anaknya yang akhirnya dapat mempercepat terjadinya rampan karies. Pentingnya menjaga kebersihan gigi anak usia prasekolah agar terhindar rampan karies karena rampan karies sangat sering terjadi pada anak usia sekolah terlebih yang mengkonsumsi susu botol dalam waktu yang lama. Posisi anak tertidur dengan botol atau dot dalam rongga mulut maka cairan manis akan membasahi permukaan gigi sulung pada keadaan tersebut jumlah aliran saliva menurun dan kualitas saliva mengental sehingga efek pembersihan saliva berkurang, dengan demikian akan meningkat kualitas kariogenik, hasil fermentasi antara sukrosa dan bakteri menurunkan pH saliva sehingga mengalami demineralisasi email dan akhirnya menjadi karies. Bahwa kurangnya pengetahuan orang tua tentang cara pemberian susu botol yang baik untuk anak prasekolah yaitu dalam keadaan di pangku orang tua sehingga mereka tidak begitu dekat dengan susu botol karena mereka sudah mendapatkan kasih sayang dari orang tua pada saat memberikan susu. Upaya pencegahan terjadinya rasupan karies sebaiknya jangan dibiasakan anak minum susu dari botol sampai tertidur  beri minum air putih saja setelah minum susu latih anak untuk selalu mengunyah makanan sendini mungkin dengan memperhatikan peningkat tekstur makanan yang diberi sesuai perkembangan usia anak (Afrilina, 2006).
Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa pemberian susu botol sangat mempengaruhi terhadap terjadinya rampan karies anak terutama pada anak prasekolah yang masih mengkonsumsi susu botol dalam waktu lama sampai tertidur, karena cepat proses karies ini terjadi karena paparan terus menerus antara gigi dengan susu pada anak yang minum menggunakan botol pH yang turun (pH normal=7), Sulit untuk netral dan karies berkembang biak dengan cepat (Maulani,2005).

PENUTUP
A.     Kesimpulan
1.      Dari 28 murid yang diberikan susu botol yang terkena rampan karies 26 murid (93%) dan tidak terkena rampan karies 2 murid (7%)
2.      Pemberian susu botol dengan kategori kurang baik sebanyak 27 murid (96%) sedangkan kategori baik 1 murid (4%).                                                                                                                                                                                                                                                                                                    

B.     Saran
Diharapkan kepada orang tua lebih meningkat pemeliharaan dan pengetahuan terhadap pemberian susu botol pada anak prasekolah sehingga mencegah terjadinya rampan karies.
.

DAFTAR PUSTAKA

Adelina, Barus. 2012. Kesehatan Gigi Dan Mulut Yang Efektif Dalam Meningkatkan Kecerdasan Spiritual Anak Sekolah Dasar Widuri Lebak Bulus Jakarta Selatan 2012. hal. 3,14. Poltekkes Jakarta. Jakarta Selatan.
www.poltekkesjakarta1.ac.id   Budiharto, 2010. Pengantar Ilmu Perilaku Kesehatan dan Pendidikan Kesehatan Gigi. hal.4, 17-19. EGC. Jakarta
Daranita, Jamaris. 2009. Hubungan pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut, sikap dan tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dengan status kebersihan gigi dan mulut pada anak usia 9 – 12 tahun di SDN Maccini I,II,III,IV dan SD Inpres Maccini I/I Makassar. Makassar: Universitas Hasanuddin
Dewanti, 2012. Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Gigi dengan Perilaku Perawatan Gigi Pada Anak Usia Sekolah Di SDN Pondok Cina 4 Depok. hal. 45. Fakultas Ilmu Keperawatan. Universitas Indonesia. Depok
            Fitriani, 2011. Promosi Kesehatan. hal.48. Graha Ilmu. Yogyakarta
Herijulianti, dkk. 2012. Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan Jaringan Pendukung Gigi. hal. 91-97. EGC. Jakarta
Kusumawardani, Endah. 2011. Buruknya Kesehatan Gigi Dan Mulut. hal. 5, 40, 45-47. Cetakan I. SIKLUS. Yogyakarta
Machfoedz, 2008. Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Anak-Anak Ibu Hamil. hal. 105, 110. Fitramaya. Yogyakarta
Mubarak, 2007. Promosi Kesehatan. hal. 29. Graha Ilmu. Yogyakarta
Notoatmodjo, 2011. Kesehatan Masyarakat. hal. 147-149.  PT. Rineka Cipta. Jakarta
Nursalam, 2011. Konsep dan Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan. Hal. 120. Salemba Medika. Jakarta Selatan.
Pandelaki, dkk. 2013. Hubungan Pengetahuan Kebersihan Gigi dan Mulut dengan Status  Kebersihan Gigi dan Mulut pada Siswa Sma Negeri 9 Manado. hal. 84. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Sam Ratulangi Manado
core.ac.uk/download/pdf/16508785.pdf
Pratiwi, 2009. Gigi Sehat dan Cantik. hal 35-38, 64-65, 74-79. PT Kompas Media Nusantara. Jakarta.
Riskesdas. 2013.  hal. 110-111. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Jakarta
Saleh, 2012. Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Kesehatan Gigi Dan Mulut Dalam Pemeliharaan Kesehatan Gigi Anak SD PAO Kelas III, IV, Dan V Kec. Mattirobulu Kab. Pinrang Tahun 2012. hal. 40. Poltekkes Makassar Jurusan Keperawatan Gigi. Makassar
Septa, 2012. Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Kesehatan Gigi Di Puskesmas Watampone Kab. Bone Setelah Ditetapkan Program Kesehatan Gratis. hal. 27. Poltekkes Makassar Jurusan Keperawatan Gigi. Makassar2012.
Efek Penyuluhan Kesehatan Gigi Dan Mulut Terhadap Penurunan Indeks Plak Pada Murid Kelas IV Dan V Di SDN 2 Maddukkelleng Ungguan Kabupaten Wajo. hal. 6. Poltekkes Makassar Jurusan Keperawatan Gigi. Makassar
Tuhuteru, 2014. Status Kebersihan Gigi Dan Mulut Pasien Poli Klinik Gigi Puskesmas Paniki Bawah Manado, Jurnal E-Gigi, Vol 2, No.2, Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Sam Ratulangi Manado
Yauri, 2012. Hubungan Penggunaan Sikat Gigi Dengan Bulu Sikat Yang Telah Lama Digunakan Terhadap Timbulnya Gingivitis Di Sd Negeri 1 Pulau Baling Lompo Kecamatan Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkep Tahun 2012. hal. 33. Poltekkes Makassar Jurusan Keperawatan Gigi. Makassar
Yundali, H. 2012. Kesehatan Gigi dan Mulut. hal. 59, 72, 81-86.Pustaka Reka Cipta. Jawa Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar