PENGARU PENDIDIKAN SEBAYA TERHADAP
SIKAP PEMILIHAN JAJANAN SEHAT PADA SISWA
SDN 10 PANTERIEK BANDA ACEH TAHUN 2015
Oleh:
Intan Liana
ABSTRAK
Perilaku pemilihan jajanan sehat dipengaruhi oleh sikap dalam memilih.
Untuk mengubah sikap negatif memilih jajanan sehat untuk siswa dapat
menggunakan peer edukasi. pendidik sebaya memberikan pendidikan yang dilakukan
oleh rekan-rekan dan dalam penelitian ini di lingkungan sekolah. Penelitian ini
bertujuan untuk membuktikan pengaruh pendidikan sebaya pada sikap pemilihan makanan ringan yang
sehat untuk siswa dari SDN 10 Panterik Banda Aceh. Dalam penelitian ini,
menggunakan Quasy eksperimen desain dengan desain pendekatan pre-test post-test
kelompok kontrol. Populasi dalam penelitian ini adalah 159 orang dan sampel 96
orang yang diambil dengan proporsional stratified random sampling. 48 orang
dalam kelompok eksperimen diberikan pendidikan sebaya dan 48 orang pada
kelompok kontrol diberikan buklet. Untuk Mengumpulkan data menggunakan
kuesioner. Hasil uji Mc Nemar menunjukkan bahwa p (0,001), ada pengaruh
pendidikan sebaya pada sikap pemilihan jajanan sehat. Pada sebagian besar anak
sekolah, sikap negatif dalam pilihan makanan ringan yang sehat dipengaruhi oleh
berbagai faktor, termasuk jenis kelamin, usia, uang saku, pengalaman pribadi
dan teman-teman mereka. kebutuhan anak sekolah dari pendidikan kesehatan untuk
mengubah sikap negatif mereka. pendidik sebaya memberikan pendidikan
disampaikan langsung oleh rekan-rekan mereka yang datang dari mereka, yang
mampu memberikan informasi yang tepat yang dapat diserap dengan mudah oleh
rekan-rekan mereka.
Kata kunci: sikap pemilihan jajanan sehat, rekan pendidik, anak sekolah
PENDAHULUAN
Kebiasaan jajan pada anak sudah
menjadi kebiasaan umum dan ditemui di berbagai tingkat sosial ekonomi
masyarakat. Bagi anak yang tidak terbiasa makan pagi, makanan jajanan berfungsi
sebagai makanan yang pertama kali masuk ke saluran pencernaan, sehingga pada
sebagian orang, jajanan menjadi penting artinya (Depkes RI, 2011). Jajan merupakan kebiasaan makan yang kurang
baik. Karena jajan yang umumnya digemari oleh anak-anak ialah berupa kue-kue
yang biasanya dibuat sebagian besar dari tepung dan gula. Dengan jajanan
kue-kue ini anak semata-mata mendapat tambahan kalori, sedangkan zat pembangun
dan zat pengatur sangat sedikit, sehingga kalau sudah jajan anak-anak cenderung
selera makan berkurang
(Ishadi, 2007).
Menurut Yayasan
Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dalam Qonita Tahun 2010 menyimpulkan bahwa
prosentase makanan jajanan anak sekolah dasar (SD) yang dicampur dengan
berbagai zat berbahaya masih sangat tinggi. Sebagai salah satu alternatif
makanan bagi anak sekolah, nilai gizi dan nilai keamanan maka makanan jajanan
masih perlu mendapat perhatian (Afandi, 2012).
Menurut psikolog anak, Dr. Rosemini A.P., M.Psi, Dari
penelitian beberapa sekolah dasar di
Jakarta pada 2009 menyatakan, 68% siswa pernah jajan di luar pagar sekolah.
Sebanyak 16% mengaku jajan di tempat yang sama 5-6 kali seminggu. Hal ini juga
didukung studi pada 2009 yang menyatakan, hanya 39 persen siswa yang membawa
bekal dari rumah (Widiyani, 2013). Menurut Deputi
Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan Pengawas Obat dan
Makanan (BPOM) Roy Sparringga anak Sekolah Dasar (SD) adalah usia "paling
sering jajan." Survey menunjukkan dari ratusan responden, ada
sekitar 49 persen anak SD jajan setidaknya 4 kali setiap minggunya, 50%
setidaknya 1 kali setiap minggunya. Dan hanya 1% yang tidak pernah jajan
melainkan membawa makanan sendiri dari rumah (Kartika,
2013).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan
yang dilakukan peneliti di SDN 10
Panterik Banda Aceh dari 10 siswa yang diwawancari oleh peneliti 9 siswa (90%)
suka jajan di luar sekolah dan 1 siswa (10%) suka jajan di kantin sekolah dan 8
siswa (80%) suka makanan yang bersaos dan tidak ada yang membawa bekal makanan
dari rumah sama sekali. Serta berdasarkan hasil observasi peneliti terdapat 4
pedagang yang berjualan di lingkungan sekolah dengan bahan makanan makan
tambahan pewarna yang sangat mencolok. Untuk mengubah kebiasaan jajan pada
siswa pihak sekolah sudah melakukan berbagai macam cara diantaranya pembatasan
area bagi penjual jajanan di sekolah dan himbauan oleh guru kepada siswa agar
tidak jajan sembarangan.
Tidak semua jajanan yang dikonsumsi oleh anak memenuhi syarat
pangan. Sumber makanan yang di sebut oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM) sebagai Pangan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) ini kebanyakan tercemar
mikroba, 66% pada tahun 2012 dan mengalami peningkatan menjadi 76% pada tahun
2013 (Fajri, 2013).
Menurut data
Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan yang dihimpun oleh Direktorat
Surveilans dan Penyuluhan Keamanan Pangan (SPKP) BPOM, dari 26 BPOM di seluruh
Indonesia pada tahun 2007 menunjukkan 15,64% kasus keracunan terjadi di
lingkungan sekolah dan 78,57% kelompok siswa anak SD paling sering mengalami
keracunan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) (BPOM RI, 2009).
Akhir-akhir ini juga terungkap
bahwa reaksi simpang makanan tertentu ternyata dapat mempengaruhi fungsi otak
termasuk gangguan perilaku pada anak sekolah. Gangguan perilaku tersebut
meliputi gangguan tidur, gangguan konsentrasi, gangguan emosi, hiperaktif dan
memperberat gejala pada penderita autism. Pengaruh jangka pendek penggunaan
Bahan Tambahan Pangan (BTP) ini menimbulkan gejala-gejala yang sangat umum
seperti pusing, mual, muntah, diare atau bahkan kesulitan buang air besar (Judarwanto, 2006).
Adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan
jenis makanan jajanan di sekolah yaitu faktor pemudah meliputi pengetahuan gizi
dan kesehatan, kebiasaan sarapan dan pemilihan jenis makanan berdasarkan empat
nilai (rasa, status sosial, kesehatan, harga). Nilai yang paling berpengaruh
dalam pemilihan jenis makanan jajanan di sekolah adalah interaksi antara nilai
rasa dan harga. Faktor pemungkin meliputi uang saku, makanan jajanan di kantin
sekolah dan iklan di televisi. Faktor penguat meliputi orang tua, teman sekolah
dan wali kelas (Purwantiningsih, 2006).
Menurut Azwar tahun 2011, Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan jajanan
meliputi faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern mencakup
pengetahuan khususnya pengetahuan gizi, kecerdasan, persepsi, sikap, emosi dan
motivasi dari luar. Dan yang dimaksud dengan sikap seorang anak adalah komponen
penting yang berpengaruh dalam memilih jajanan. Sikap merupakan respon
evaluatif yang dapat berbentuk positif maupun negatif (Sudarmawan, 2013).
Berkaitan dengan sikap pemilihan jajanan sehat anak sekolah, ada hal yang
perlu diteliti yaitu sikap anak yang
mendukung pemilihan jajanan. Untuk mengubah sikap siswa dalam memilih jajanan
perlu adanya peer educator yang
memberi wawasan siswa mengenai sikap dalam memilih jajanan di era seperti ini.
Karena kecenderungan anak di masa usia sekolah seperti ini anak tidak mau
menuruti perintah namun lebih cenderung dipengaruhi oleh teman sebayanya dari
pada oleh orang tua dan anggota keluarga yang lain (Hurlock, 2010).
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fitriani (2011)
di Desa Baru Kecamatan Manggar Belitung
Timur, menunjukkan
bahwa terdapat perbedaan berupa peningkatan sikap hidup bersih dan sehat yang
bermakna sesudah diberikan edukasi sebaya antara kelompok intervensi dan
kelompok kontrol yang tidak diberikan edukasi sebaya (p value 0.000,
alpha=0,05).
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis ingin meneliti tentang
“Pengaruh Pendidikan Sebaya terhadap Sikap Pemilihan
Jajan Sehat Pada Siswa SDN 10 Panterik Banda Aceh”.
BAHAN DAN METODE
Desain
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experiment, yaitu pengembangan dari true experiment design, desain ini mempunyai kelompok kontrol,
tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar
yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen.
Rancangan yang dipakai adalah pre
test- post test control group design, dalam design ini terdapat dua
kelompok yang dipilih secara random, kemudian
diberi pre test untuk mengetahui
keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol,
kelompok pertama diberi perlakuan dan
kelompok yang lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok
eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok control (Sugiyono, 2011). Desain penelitian ini
berupaya mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok
kontrol disamping kelompok eksperimental (Nursalam,
2011).
Pada kelompok perlakuan
diberikan peer edukasi sebagai upaya perubahan sikap pemilahan jajanan sehat pada siswa SDN 10
Panterik Banda Aceh. Pada kelompok kontrol diberikan boklet. Populasi dalam penelitian ini adalah semua Siswa kelas
1,2,3 dan 4 SDN 10 Panterik Banda Aceh sejumlah 159 orang. Besar sampel pada
penelitian ini didapatkan 96 responden
menggunakan metode simple random sampling
berdasarkan kriteria inklusi yaitu: 1.
Terdaftar secara resmi pada SDN 10 Panterik Banda Aceh. Anak usia sekolah yang
duduk di kelas 1,2,3,4 SDN 10 Panterik Banda Aceh. Tidak memiliki jumlah
absensi yang banyak (maksimal 2 kali absensi selama pelatihan). Penelitian ini akan
dilaksanakan di SDN 10 Panterik Banda
Aceh. Dengan waktu pemberian peer educator selama 1 minggu.
Variabel independen dalam penelitian ini adalah peer educator. Variabel dependen dalam
penelitian ini adalah sikap pemilahn
jajanan sehat pada siswa SDN 10 Panterik Banda Aceh.
Intrumen pada penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner sikap yang telah diuji validitas dan reabilitas
terlebih dahulu. Yang
mengahasikan kuisioner valid berisi 17 soal mengenai aspek kognitif sebanyak 5
soal ( 3 positif dan 2 negatif), Afektif 6 soal ( 3 positif dan 3 negatif)
serta aspek konatif 6 soal ( 3 positif dan 3 negatif). Skala yang digunakan
adalah skala data nominal. Skor total keseluruhan
jawaban
responden dengan rentang skor
17-68. Dikatakan positif jika skor
T > mean T. Dikatakan negatif jika skor
T ≤ mean T
Tabel 1. Distribusi frekuensi responden berdasarkan
usia, jenis kelamin, pernah tidaknya membicarakan jajanan sehat, frekuensi
dalam membicarakan jajanan sehat dan uang saku pada siswa SDN 10 Panterik Banda
Aceh Tahun
2014
|
Karakteristik
|
Kelompok Responden
|
Total
|
|||
|
Intervensi
|
Kontrol
|
||||
|
F
|
%
|
F
|
%
|
F
|
|
|
Usia:
|
|
|
|
|
|
|
7-8 Tahun
|
26
|
54,2
|
26
|
54,2
|
52
|
|
9-10 Tahun
|
18
|
37,5
|
19
|
39,5
|
37
|
|
11-12 Tahun
|
4
|
8,3
|
3
|
6,3
|
7
|
|
Total
|
48
|
100
|
48
|
100
|
96
|
|
Jenis
Kelamin:
|
|
|
|
|
|
|
Laki- Laki
|
27
|
56,3
|
27
|
56,3
|
54
|
|
Perempuan
|
21
|
43,7
|
21
|
43,7
|
42
|
|
Total
|
48
|
100
|
48
|
100
|
96
|
|
Membicarakan
Jajanan:
|
|
|
|
|
|
|
Tidak Pernah
|
26
|
54,2
|
28
|
58,3
|
54
|
|
Pernah
|
22
|
45,8
|
20
|
41,7
|
42
|
|
Total
|
48
|
100
|
48
|
100
|
96
|
|
Frekuensi:
|
|
|
|
|
|
|
0 Kali
|
26
|
54,2
|
28
|
58,3
|
54
|
|
1 Kali
|
13
|
27,0
|
11
|
22,9
|
24
|
|
>1 kali
|
9
|
18,8
|
9
|
18,8
|
18
|
|
Total
|
48
|
100
|
48
|
100
|
96
|
|
Uang
Saku:
|
|
|
|
|
|
|
< 1000
|
6
|
12,5
|
9
|
18,8
|
15
|
|
2000-4000
|
34
|
70,8
|
28
|
58,3
|
62
|
|
> 5000
|
8
|
16,7
|
11
|
22,9
|
19
|
|
Total
|
48
|
100
|
48
|
100
|
96
|
Tabel
2. Perubahan
sikap responden sebelum dan sesudah pemberian peer educator pada kelompok eksperimen, sebelum dan sesudah pemberian booklet
pada kelompok kontrol pada siswa SDN 10 Panterik Banda Aceh Tahun 2014
|
.Kelompok
|
Kriteria
Sikap
|
Sebelum
|
Sesudah
|
p Value
|
||
|
F
|
%
|
F
|
%
|
|||
|
Eksperimen
|
Negatif
|
34
|
70,8
|
8
|
16,7
|
0,000*
|
|
Positif
|
14
|
29,2
|
40
|
83,3
|
||
|
Total
|
|
48
|
100
|
48
|
100
|
|
|
Kontrol
|
Negatif
|
32
|
66,7
|
20
|
41,7
|
0,023*
|
|
Positif
|
16
|
33,3
|
28
|
58,3
|
||
|
Total
|
|
48
|
100
|
48
|
100
|
|
PEMBAHASAN
Hasil penelitian berdasarkan Mc. Nemar
diketahui bahwa sikap responden sebelum dan sesudah pemberian peer educator pada kelompok eksperimen
yakni, yang memiliki sikap sebelum perlakuan negatif dan sesudah perlakuan
tetap negatif sebesar 6 responden, yang sebelum perlakuan memiliki sikap
positif kemudian sesudah perlakuan berubah menjadi negatif sebesar 2 reponden,
responden yang memiliki sikap sebelum perlakuan negatif kemudian berubah
menjadi positif sesudah perlakuan sebesar 28 responden, dan reponden yang tetap
memliki sikap positif baik sebelum maupun sesudah perlakuan sebesar 12
responden.
Dari tabel 2 juga dapat diketahui hasill
uji Mc Nemar menggunakan bantuan spss versi 20.0 bahwa titik significant (0,000)< α (0,05), artinya H0ditolak,
jadi terdapat perubahan yang bermakna pada kelompok yang diberikan perlakuan
oleh peer educator, sehingga terdapat
pengaruh peer educator terhadap
perubahan sikap pemilihan jajanan sehat pada siswa SDN 10 Panterik Banda Aceh.
Dengan melihat hasil
uji statistik dari kelompok eksperimen, dapat dijelaskan bahwa terdapat
pengaruh pemberian peer educator terhadap
sikap pemilihan jajanan sehat pada siswa SDN
10 Panterik Banda Aceh.
. Hal tersebut dapat
terjadi dikarenakan seseorang yang
dianggap penting, yang diharapkan persetujuannya bagi setiap gerak tingkah dan
pendapat, seseorang yang tidak ingin kita kecewakan, atau seseorang yang
berarti khusus, akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap terhadap sesuatu.
Bagi seorang anak suatu persetujuan atau kesesuaian sikap sendiri dengan sikap
kelompok sebaya adalah sangat penting untuk menjaga status afiliasinya dengan
teman-teman, untuk menjaga agar ia tidak dianggap asing serta dikucilkan oleh
kelompok. (Azwar, 2007).
Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya dari Dianita
Fitriani bahwa edukasi sebaya efektif untuk mengubah sikap tentang PHBS cuci
tangan Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat peningkatan rata-rata skor
sikap yang bermakna antara sebelum dan sesudah diberikan edukasi sebaya pada
kelompok intervensi (p value 0.000, alpha= 0.05).Peningkatan
rata-rata skor sikap yang bermakna pada kelompok intervensi dipengaruhi oleh
adanya pemberian edukasi sebaya oleh edukator sebaya dalam bentuk sharing, bermain
dengan menggunakanmedia video dan materi permainan. Jika dibandingkan dengan
hasil dari penelitian ini, berarti peer educator sama-sama mempunyai pengaruh
terhadap sikap pemilihan jajanan sehat, baik siakap mengenai phbs cuci tangan
maupun mengenai jajanan sehat. Hal
tersebut dikarenakan perubahan sikap yang terjadi dalam penelitian ini,
diperoleh sebagai dampak perubahan pengetahuan anak usia sekolah dari proses
edukasi sebaya yang diperoleh. Proses edukasi sebaya yang dilakukan selama 4
minggu tersebut meningkatkan kontak atau interaksi yang terus menerus antar
satu dan yang lainnya dalam anggota kelompok sebaya terutama di lingkungan
sekolah, yang akhirnya mempengaruhi nilai anak usia sekolah. Peer educator adalah seseorang dari satu
group yang sama yang menunjukkan peran sebagai pemberi edukasi untuk anggota
yang lain yang bekekrja dengan dia atau sebagai kolega yang bertujuan
mempengaruhi perubahan sikap dan perilaku (NACO, 2013).
Peer group menurut Vembrianto tahun 1992 merupakan istitusi
sosial kedua sesudah keluarga yang memiliki peranan sangat penting bagi
kehidupan anak dan remaja. Di dalam proses peer
group terjadi proses belajar sosial, yaitu individu mengadopsi kebiasaan,
sikap, ide, keyakinan, nilai-nilai dan pola-pola tingkah laku dalam masyarakat,
serta mengembangkannya menjadi kesatuan sistem dalam dirinya. Selain itu,
mereka juga bebas mengekspresikan sikap, penilaian, serta sikap kritisnya dan
belajar mendalami hubungan yang sifatnya personal (Imron, 2012). Menurut BKKBN
dan YAI tahun 2001, dalam konteks peer
group, pendidikan kesehatan dilakukan melalui pendidik sebaya (peer educator). Pendidik sebaya adalah
orang yang menjadi narasumber bagi kelompok sebayanya (Imron, 2012).
Pendidikan sebaya sering digunakan untuk mengubah tingkat perilaku pada
individu dengan cara memodifikasi pengetahuan, sikap, keyakinan, atau perilaku
seseorang. Namun, pendidikan sebaya juga dapat mempengaruhi perubahan di
tingkat kelompok atau masyarakat dengan memodifikasi norma-norma dan merangsang
tindakan kolektif yang mengarah pada perubahan program dan kebijakan yang ada
dalam masyarakat (Astuti, 2013).
Sehingga
untuk merubah sikap seseorang dalam penelitian ini adalah sikap pemilihan
jajanan sehat dapat menggunakan peer educator sebagai role model serta dengan menggunakan metode-metode yang mudah
dipahami oleh anak-anak.
Hasil penelitian diketahui bahwa sikap responden sebelum dan
sesudah pemberian booklet pada
kelompok kontrol yakni, yang memiliki sikap sebelum perlakuan negatif dan
sesudah perlakuan tetap negatif sebesar 15 responden, yang sebelum perlakuan
memiliki sikap positif kemudian sesudah perlakuan berubah menjadi negatif
sebesar 2 reponden, responden yang memiliki sikap sebelum perlakuan negatif
kemudian berubah menjadi positif sesudah perlakuan sebesar 17 responden, dan
reponden yang tetap memliki sikap positif baik sebelum maupun sesudah perlakuan
sebesar 14 responden.
Dari tabel 2 juga dapat diketahui hasill
uji Mc Nemar menggunakan bantuan spss versi 20.0 bahwa p value (0,023)< α (0,05), artinya H0 ditolak, jadi
terdapat perubahan yang bermakna pada kelompok yang diberikan perlakuan berupa booklet, sehingga terdapat pengaruh booklet terhadap perubahan sikap
pemilihan jajanan sehat pada siswa SDN 10 Panterik Banda Aceh.
Dengan melihat hasil
uji statistik dari kelompok kontrol, dapat dijelaskan bahwa terdapat pengaruh
pemberian booklet terhadap perubahan
sikap pemilihan jajanan sehat pada siswa SDN
10 Panterik Banda Aceh.
. Hal tersebut dapat
terjadi pemberian pengetahuan melalui booklet dapat meningkatkan pengetahuan
pada anak sekolah yang menjadi dasar seseorang dalam membentuk sikap dalam
dirinya namun tidak seperti peer educator
yang banyak menglami peningkatan.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yakni pada
penelitian Hayati kelompok kontrol terjadi penurunan rata-rata skor sikap yang
bermakna antara sebelum dan sesudah penelitian (p value 0.00, alpha= 0.05) namun tetap terjadi
perubahan sikap yang bermakna anatara sebelum dan sesudah penelitian (Fitriani,
2009).
Dengan melihat
perbedaan sikap antara sebelum dan sesudah pemberian perlakuan baik pada
kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol, berarti dapat dikatakan pemberian peer educator maupun booklet berpengaruh terhadap perubahan
sikap pemilihan jajanan sehat pada siswa SDN
10 Panterik Banda Aceh.
. Namun
pemberian peer educator lebih efektif
jika dibandingkan dengan hanya pemberian booklet.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan :
Terdapat pengaruh pemberian peer
educator terhadap sikap pemilihan jajajnan serhat pada siswa SDN 10
Panterik Banda Aceh.
Perubahan sikap yang bermakna pada
kelompok intervensi dipengaruhi oleh adanya pemberian edukasi sebaya oleh
edukator sebaya dalam bentuk sharing, bermain dengan menggunakan media
video dan materi permainan. Sehingga siswa lebih mampu menyerap materi yang
disampaikan. Sehingga semakin diberikan peer
educator maka semakin bisa merubah sikap menuju ke arah yang positif.
Saran :
Bagi Peer educator
Diharapkan kegiatan peer educator ini tetap dilaksanakan walaupun kegiatan penelitian
sudah berakhir. Untuk mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku teman sebaya
mereka yang negatif menjadi positif. Sehingga membutuhkan foolow up dikarenakan
untuk mengubah sikap dan perilaku memerlukan waktu yang panjang untuk itulah
diharapkan peer educator tetap
berfungsi sebagaimana mestinya dalam memberikan edukasi sebaya .
Bagi Petugas Kesehatan
Diharapkan peer educator dijadikan salah satu
alternatif tindakan keperawatan komunitas yang dapat digunakan oleh perawat
untuk menjangkau promosi kesehatan di setting sekolah.
Bagi Tempat Penelitian
Diharapkan hasil
penelitian ini dapat dijadikan data dasar dan menambah referensi bagi pihak
sekolah dalam mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku negatif dari anak didik
untuk menjadi positif. Dan diharapakan
memberikan sistem keamanan untuk siswanya serta memebrikan kebijakan kepada
siswa dan orang tua siswa untuk membawa bekal makanan ke sekolah sehingga
keamanan jajanan siswa terjamin.
Bagi Peneliti Selanjutnya
Dikarenakan pada penelitian ini
pemberian peer educatorhanyaberlangsung
selama 4 minggu. Diharapkan penelitian ini dilakukan secara berkelanjutan,
sehingga efek dari peer educator terhadap
perubahan sikap pada siswa SD dalam memilih jajanan sehat dapat diketahui lebih
jelas.
Untuk penelitian selanjutnya yang
terkait dengan judul penelitian ini, diharapkan tidak hanya sampai meneliti
sebatas sikap dari siswa tetapi sampai dengan perilaku dari siswa.
Dikarenakan pada penelitian ini,
pengawasan yang dilakukan peneliti terhadap responden yang melaksanakan peer educator beberapa hari saja, maka
untuk penelitian yang terkait dengan penelitian ini diharapkan agar peneliti
mengawasi responden setiap kegiatan dalam melaksanakan peer educator agar peer
educator dan responden dapat
melaksanakan kegiatan edukasi sebaya sesuai dengan prosedur yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Adams, M. 2004. Dasar-Dasar Keamanan Makanan. Jakarta
: EGC.
Afandi, A. T. 2012. Pengaruh Peer Group Support terhadap
Perilaku Jajanan Sehat Siswa Kelas 5 SDN Ajung 2 Kalisat Jember. Fakultas
Keperawatan Universitas Airlangga Kampus C Surabaya , 2. http://journal.unair.ac.id/filerPDF/Alfid%20Tri%20A.doc
diakses pada tanggal 25 Desember 2013.
ALPI. 2011. BPOM Keluarkan Panduan Keamanan Pangan
Jajajnana Anak Sekolah. Asosiasi Laboratorium Pangan Indonesia. http://www.alpindonesia.org/index1.php?view&id=481
diakses tanggal 5 Januari 2011.
Aprilia, B. A. 2011. Faktor
Yang Berhubungan Dengan Pemilihan Makanan Jajanan Pada Anak Sekolah Dasar .
Program Studi Ilmu Gizi Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. http://eprints.undip.ac.id/32606/1/403_Bondika_Ariandani_aprillia_G2C007016.pdf
diakses pada tanggal 25 Desember 2013.
Arikunto,
S. 2010. Prosedur Penelitian.
Jakarta: Rineka Cipta
Arisman. 2009. Keracunan Makanan. Jakarta: EGC.
Astuti, A. S. 2013. Peranan
Peer Educator dalam Mengendalikan Konsumsi Rokok untuk Perencanaan Program
Promosi Kesehatan. Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. http://fhuiguide.files.wordpress.com/2013/03/contoh-dan-penjelasan-pkm-artikel-ilmiah-inti.pdf
diakses pada tanggal 26 Desember 2013.
Azwar, S. 2007. Sikap
Manusia . Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Azwar, S. 2011.
Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
BPOM RI. 2009. Prosiding Lokakarya Jejaring Intelijen Pangan Program
Nasional Peningkatan Keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah. Jakarta: Badan
Pengawas Obat dan Makanan RI Deputi Bidang Pengawasan Keamanana Pangan dan
Bahan Berbahaya Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan.
www2.pom.go.id/surv/events/jippjas23juli.pdf diakses pada tanggal 30 Desember 2013.
Cahyaningsih, D. S. 2011. Pertumbuhan Perkembangan Anak
dan Remaja. Jakarta: Trans Info Media.
Dahlan, M. S. 2009. Statistik
Untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika.
Dahlan, M. S. 2010. Membuat Proposal Penelitian Bidang
Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: CV Sagung Seto.
Depkes RI. 2011. Hati-Hati Jangan Jajan Sembarangan.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. www.gizikia.depkes.go.id diakses pada tanggal 2 Januari 2014 .
Fajri, W. 2013. Sebab dan cara
Cegah Kontaminasi Makanan . www.kompas.com diakses pada tanggal 2 Januari 2014.
Fitriani, D. 2011. Pengaruh Edukasi Sebaya terhadap Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Pada Agregat Anak Usia Sekolah yang Beresiko
Kecacingan di Desa Baru Kecamatan Manggar Belitung Timur. Tesis Fakultas Ilmu Keperawatan Program
Magister Ilmu Keperawatan Pemunatan Keperawatan Komunitas Universitas Indonesia
Jakarta.http:// lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20280655-T%20Dianita%20Fitriani.pdf diakses pada tanggal 25 Desember 2013.
Fitriani, S. 2011. Promosi Kesehatan . Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Ford
and colier. 2006. How to Use Peer
Education for Suistainability.
SidneySouth: Departemen of Environment and Conservation NSW www.tissues.com.au/slippery.pdf diakses pada tanggal 26 Desember 2013.
Ginanjar. N. S. 2009. Hubungan Pelatihan dan Lingkungan Kerja
dengan Kinerja Karyawan Front Office di
Novotel Nusa Dua Bali. http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/122657-T+25839-hubungan+pelatihan-.pdf.
Diakses pada tanggal 18 Maret 2014
Hidayat, A. A. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan
Teknik Analisis Data . Jakarta: Salemba Medika.
. 2008. Riset Keperawatan dan
Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika.
. 2010. Paradigma Kuantitatif.
Surabaya : Health Book Publishing.
Hurlock, E. B. 2010. Psikologi Perkembangan Suatu
Pendektan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Imron, A. 2012. Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja.
Jakarta: Ar-Ruzz Media.
Ishadi. 2007. Mendidik
Dokter Kecil . Surabaya : Duta Graha Pustaka.
Judarwanto, W. 2006. Perilaku
Makan Anak Sekolah., Pusat Data dan
Informasi Persi: www.pdpersi.co.id diakses pada tanggal 27 Desember 2013.
Kartika, U. 2013.. Pentingnya
Awasi Jajanan Anak Di Sekolah. www.kompas.com . Diakses tanggal 28
Desember 2013.
Kartono, Kartini. 2007. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan).
Bandung: Mandar Maju
Kozier. 2010. Fundamental
Keperawatan . Jakarta : EGC .
Ladauda, A. 2011. Pengaruh
Makanan Jajanan Terhadap Perkembangan. Teachers College Universitas Pelita Harapan. https://docs.google.com/document/d/1Mbzgfgv-DJpt4pexpKsfXUsV6ttGNgipb1V63nlSiss/edit?pli=1 diakses pada tanggal 25 Desember 2013
LPPM. 2013. Buku Panduan Penyusunan KTI dan Skripsi.
Mojokerto: LPPM Stikes Bina Sehat PPNI Mojokerto.
Maulana, H. D. 2009. Promosi
Kesehatan . Jakarta: EGC.
McDonald, J. 2003. Peer Education
From Evidance to Practice. University of South Australia. National Center
For Education and Training on Addiction (NCETA), from www.nceta.flinder.edu.au diakses pada tanggal 1 Januari 2014.
Mead, M. 2013. Module I. from Peer Education: http://www.unodc.org/pdf/youthnet/action/message/escap_peers_01.pdf diakses pada tanggal 1 Januari 2014.
NACO. 2013. Training Module for Peer Educator. Natinal
Aids Control Organisation. Ministry of Health an Family Welafare Government
of India. http://naco.gov.in/upload/NGO%20&%20Targeted/Capacity%20Building/PE%20modules/PE%20Manual.pdf diakses pada tanggal 8 Januari 2014.
Notoatmodjo, S. 2010. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi.
Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. 2011. Kesehatan
Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta.
. 2007. Kesehatan Masyarakat .
Jakarta : Rineka Cipta.
. 2010. Metodologi Penelitian
Kesehatan . Jakarta: Rineka Cipta.
. 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi
Penellitian Ilmu Keperawatan . Jakarta: Salemba Medika.
Purwantiningsih, e. 2006. Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemilihan Jenis Makanan
Jajanan Di Sekolah Studi Pada Siswa SDN Gemolong 2 Kecamatan Gemolong Kabupaten
Sragen Tahun 2006. http://eprints.undip.ac.id/9154/. Diakses tanggal 20 Februari
2014.
Savitri, R. 2009. Faktor-Faktor
yang Berhubungan dengan Perilaku Konsumsi Makanan Jajanan yang Mengandung
Pewarna Sintetik pada Siswa Kelas Viii Dan IX Sekolah Menengah Pertama (Smp)
Pgri 1 Dan Smp Ymj Ciputat Tahun 2009. Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Program Studi
Kesehatan Masyarakat. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. http://perpus.fkik.uinjkt.ac.id/file_digital/Skripsi%20Rahma%20Savitri.pdf. Diakses tanggal 20 Februari
2014.
Sediaoetama, A. D.
2010. Ilmu Gizi . Jakarta : Dian Rakyat.
Simmons. 2010. Simmons Community. Retrieved Januari
10, 2014, from Peer Educator for the EAT/Betsy’s Friends/SEX/ Drugs and
Alcohol/Stress and Time Management/Sexual Assault/HIV/AIDS @ Simmons Program: http://www.simmons.edu/campuslife/docs/PE_job_descriptions_10.pdf diakses pada tanggal 2 Januari 2014.
Sudarmawan. 2013. Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap
Mengenai Pemilihan Jajanan dengan Perilaku Anak Memilih Jajanan di SDN
Sambikerep ii/480 Surabaya. Artikel
fakultas Ilmu Keolahragaan Jurusan Pendidikan Olahraga Program Studi S-1
Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Universitas Negeri Surabaya. http://ejournal.unesa.ac.id/data/journals/68/articles/1770/public/1770-3342-1-PB.pdf
diakses pada tanggal 25 Desember 2013.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif dan
Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfa Beta.
Sugiyono. 2013. Statistika Untuk Penelitian. Bandung:
Alfa Beta
Sulistyaningsih. 2011.
Metodologi Penelitian Kebidanan Kuantitatif Kualitatif. Yogyakarta:
Graha Ilmu .
Viarni, E. 2013. Praktek
Konsumsi Makanan Jajanan Pada Siswa Di SMP Negeri 4 Tasikmalaya Tahun 2013.
Fakultas Ilmu Kesehatan Peminatan Gizi
Kesehatan Universitas Siliwangi . http://journal.unsil.ac.id/download.php?id=1353.
Diakses pada tanggal 24 Desember 2013
Widiyani, R. 2013. Kenapa
Anak Suka Jajan.www.kompas.com.
diakses tanggal 28 Desember 2013.
Wong, D. L. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik.
Jakarta : EGC.
Yuliarti, N. 2007. Awas! Bahaya Dibalik Lezatnya Makanan .
Yogyakarta: CV Andi Offset.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar