Senin, 06 Juli 2015

Intan Liana: Jurnal Pionir, Volume 3, Nomor 1, Januari-Juni 2015, hal. 1-12

PENGARU PENDIDIKAN SEBAYA TERHADAP SIKAP PEMILIHAN JAJANAN SEHAT  PADA SISWA SDN 10 PANTERIEK BANDA ACEH TAHUN 2015

Oleh:
Intan Liana

ABSTRAK
Perilaku pemilihan jajanan sehat dipengaruhi oleh sikap dalam memilih. Untuk mengubah sikap negatif memilih jajanan sehat untuk siswa dapat menggunakan peer edukasi. pendidik sebaya memberikan pendidikan yang dilakukan oleh rekan-rekan dan dalam penelitian ini di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh pendidikan sebaya  pada sikap pemilihan makanan ringan yang sehat untuk siswa dari SDN 10 Panterik Banda Aceh. Dalam penelitian ini, menggunakan Quasy eksperimen desain dengan desain pendekatan pre-test post-test kelompok kontrol. Populasi dalam penelitian ini adalah 159 orang dan sampel 96 orang yang diambil dengan proporsional stratified random sampling. 48 orang dalam kelompok eksperimen diberikan pendidikan sebaya dan 48 orang pada kelompok kontrol diberikan buklet. Untuk Mengumpulkan data menggunakan kuesioner. Hasil uji Mc Nemar menunjukkan bahwa p (0,001), ada pengaruh pendidikan sebaya pada sikap pemilihan jajanan sehat. Pada sebagian besar anak sekolah, sikap negatif dalam pilihan makanan ringan yang sehat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk jenis kelamin, usia, uang saku, pengalaman pribadi dan teman-teman mereka. kebutuhan anak sekolah dari pendidikan kesehatan untuk mengubah sikap negatif mereka. pendidik sebaya memberikan pendidikan disampaikan langsung oleh rekan-rekan mereka yang datang dari mereka, yang mampu memberikan informasi yang tepat yang dapat diserap dengan mudah oleh rekan-rekan mereka.

Kata kunci: sikap pemilihan jajanan sehat, rekan pendidik, anak sekolah
                                              


PENDAHULUAN

Kebiasaan jajan pada anak sudah menjadi kebiasaan umum dan ditemui di berbagai tingkat sosial ekonomi masyarakat. Bagi anak yang tidak terbiasa makan pagi, makanan jajanan berfungsi sebagai makanan yang pertama kali masuk ke saluran pencernaan, sehingga pada sebagian orang, jajanan menjadi penting artinya (Depkes RI, 2011). Jajan merupakan kebiasaan makan yang kurang baik. Karena jajan yang umumnya digemari oleh anak-anak ialah berupa kue-kue yang biasanya dibuat sebagian besar dari tepung dan gula. Dengan jajanan kue-kue ini anak semata-mata mendapat tambahan kalori, sedangkan zat pembangun dan zat pengatur sangat sedikit, sehingga kalau sudah jajan anak-anak cenderung selera makan berkurang (Ishadi, 2007).
Menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dalam Qonita Tahun 2010 menyimpulkan bahwa prosentase makanan jajanan anak sekolah dasar (SD) yang dicampur dengan berbagai zat berbahaya masih sangat tinggi. Sebagai salah satu alternatif makanan bagi anak sekolah, nilai gizi dan nilai keamanan maka makanan jajanan masih perlu mendapat perhatian (Afandi, 2012).
Menurut psikolog anak, Dr. Rosemini A.P., M.Psi, Dari penelitian  beberapa sekolah dasar di Jakarta pada 2009 menyatakan, 68% siswa pernah jajan di luar pagar sekolah. Sebanyak 16% mengaku jajan di tempat yang sama 5-6 kali seminggu. Hal ini juga didukung studi pada 2009 yang menyatakan, hanya 39 persen siswa yang membawa bekal dari rumah (Widiyani, 2013). Menurut Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Roy Sparringga anak Sekolah Dasar (SD) adalah usia "paling sering jajan."  Survey menunjukkan dari ratusan responden, ada sekitar 49 persen anak SD jajan setidaknya 4 kali setiap minggunya, 50% setidaknya 1 kali setiap minggunya. Dan hanya 1% yang tidak pernah jajan melainkan membawa makanan sendiri dari rumah (Kartika, 2013).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti  di SDN 10 Panterik Banda Aceh dari 10 siswa yang diwawancari oleh peneliti 9 siswa (90%) suka jajan di luar sekolah dan 1 siswa (10%) suka jajan di kantin sekolah dan 8 siswa (80%) suka makanan yang bersaos dan tidak ada yang membawa bekal makanan dari rumah sama sekali. Serta berdasarkan hasil observasi peneliti terdapat 4 pedagang yang berjualan di lingkungan sekolah dengan bahan makanan makan tambahan pewarna yang sangat mencolok. Untuk mengubah kebiasaan jajan pada siswa pihak sekolah sudah melakukan berbagai macam cara diantaranya pembatasan area bagi penjual jajanan di sekolah dan himbauan oleh guru kepada siswa agar tidak jajan sembarangan.
Tidak semua jajanan yang dikonsumsi oleh anak memenuhi syarat pangan. Sumber makanan yang di sebut oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai Pangan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) ini kebanyakan tercemar mikroba, 66% pada tahun 2012 dan mengalami peningkatan menjadi 76% pada tahun 2013 (Fajri, 2013). Menurut data Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan yang dihimpun oleh Direktorat Surveilans dan Penyuluhan Keamanan Pangan (SPKP) BPOM, dari 26 BPOM di seluruh Indonesia pada tahun 2007 menunjukkan 15,64% kasus keracunan terjadi di lingkungan sekolah dan 78,57% kelompok siswa anak SD paling sering mengalami keracunan Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) (BPOM RI, 2009).
Akhir-akhir ini juga terungkap bahwa reaksi simpang makanan tertentu ternyata dapat mempengaruhi fungsi otak termasuk gangguan perilaku pada anak sekolah. Gangguan perilaku tersebut meliputi gangguan tidur, gangguan konsentrasi, gangguan emosi, hiperaktif dan memperberat gejala pada penderita autism. Pengaruh jangka pendek penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) ini menimbulkan gejala-gejala yang sangat umum seperti pusing, mual, muntah, diare atau bahkan kesulitan buang air besar (Judarwanto, 2006).
Adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan jenis makanan jajanan di sekolah yaitu faktor pemudah meliputi pengetahuan gizi dan kesehatan, kebiasaan sarapan dan pemilihan jenis makanan berdasarkan empat nilai (rasa, status sosial, kesehatan, harga). Nilai yang paling berpengaruh dalam pemilihan jenis makanan jajanan di sekolah adalah interaksi antara nilai rasa dan harga. Faktor pemungkin meliputi uang saku, makanan jajanan di kantin sekolah dan iklan di televisi. Faktor penguat meliputi orang tua, teman sekolah dan wali kelas (Purwantiningsih, 2006).
Menurut Azwar tahun 2011, Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan jajanan meliputi faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern mencakup pengetahuan khususnya pengetahuan gizi, kecerdasan, persepsi, sikap, emosi dan motivasi dari luar. Dan yang dimaksud dengan sikap seorang anak adalah komponen penting yang berpengaruh dalam memilih jajanan. Sikap merupakan respon evaluatif yang dapat berbentuk positif maupun negatif (Sudarmawan, 2013).
Berkaitan dengan sikap pemilihan jajanan sehat anak sekolah, ada hal yang perlu diteliti yaitu  sikap anak yang mendukung pemilihan jajanan. Untuk mengubah sikap siswa dalam memilih jajanan perlu adanya peer educator yang memberi wawasan siswa mengenai sikap dalam memilih jajanan di era seperti ini. Karena kecenderungan anak di masa usia sekolah seperti ini anak tidak mau menuruti perintah namun lebih cenderung dipengaruhi oleh teman sebayanya dari pada oleh orang tua dan anggota keluarga yang lain (Hurlock, 2010).
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fitriani (2011) di Desa Baru Kecamatan Manggar Belitung Timur, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan berupa peningkatan sikap hidup bersih dan sehat yang bermakna sesudah diberikan edukasi sebaya antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol yang tidak diberikan edukasi sebaya (p value 0.000, alpha=0,05).
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis ingin meneliti tentang “Pengaruh Pendidikan Sebaya terhadap Sikap Pemilihan Jajan Sehat Pada Siswa SDN 10 Panterik Banda Aceh”.

BAHAN DAN METODE
   Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experiment, yaitu pengembangan dari true experiment design, desain ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Rancangan yang dipakai adalah pre test- post test control group design, dalam design ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara random, kemudian diberi pre test untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, kelompok pertama diberi perlakuan  dan kelompok yang lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok control (Sugiyono, 2011). Desain penelitian ini berupaya mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol disamping kelompok eksperimental (Nursalam, 2011).
Pada kelompok perlakuan diberikan peer edukasi sebagai upaya perubahan sikap pemilahan jajanan sehat pada siswa SDN 10 Panterik Banda Aceh. Pada kelompok kontrol diberikan boklet. Populasi dalam penelitian ini adalah semua Siswa kelas 1,2,3 dan 4 SDN 10 Panterik Banda Aceh sejumlah 159 orang. Besar sampel pada penelitian ini didapatkan 96 responden menggunakan metode simple random sampling berdasarkan kriteria inklusi yaitu: 1. Terdaftar secara resmi pada SDN 10 Panterik Banda Aceh. Anak usia sekolah yang duduk di kelas 1,2,3,4 SDN 10 Panterik Banda Aceh. Tidak memiliki jumlah absensi yang banyak (maksimal 2 kali absensi selama pelatihan). Penelitian ini akan dilaksanakan di SDN 10 Panterik Banda Aceh.  Dengan waktu pemberian peer educator  selama 1 minggu.
Variabel independen dalam penelitian ini adalah peer educator. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah sikap pemilahn jajanan sehat pada siswa SDN 10 Panterik Banda Aceh.
Intrumen pada penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner sikap yang telah diuji validitas dan reabilitas terlebih dahulu.  Yang mengahasikan kuisioner valid berisi 17 soal mengenai aspek kognitif sebanyak 5 soal ( 3 positif dan 2 negatif), Afektif 6 soal ( 3 positif dan 3 negatif) serta aspek konatif 6 soal ( 3 positif dan 3 negatif). Skala yang digunakan adalah skala data nominal. Skor  total keseluruhan jawaban responden dengan  rentang skor 17-68. Dikatakan  positif jika skor T > mean T. Dikatakan   negatif jika skor T ≤ mean T

HASIL PENELITIAN
Tabel 1.   Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia, jenis kelamin, pernah tidaknya membicarakan jajanan sehat, frekuensi dalam membicarakan jajanan sehat dan uang saku pada siswa SDN 10 Panterik Banda Aceh  Tahun  2014

Karakteristik
Kelompok Responden
Total
Intervensi
Kontrol
F
%
F
%
F
Usia:





7-8 Tahun
26
54,2
26
54,2
52
9-10 Tahun
18
37,5
19
39,5
37
11-12 Tahun
4
8,3
3
6,3
7
Total
48
100
48
100
96
Jenis Kelamin:





Laki- Laki
27
56,3
27
56,3
54
Perempuan
21
43,7
21
43,7
42
Total
48
100
48
100
96
Membicarakan
Jajanan:





Tidak Pernah
26
54,2
28
58,3
54
Pernah
22
45,8
20
41,7
42
Total
48
100
48
100
96
Frekuensi:





0 Kali
26
54,2
28
58,3
54
1 Kali
13
27,0
11
22,9
24
>1 kali
9
18,8
9
18,8
18
Total
48
100
48
100
96
Uang Saku:





< 1000
6
12,5
9
18,8
15
2000-4000
34
70,8
28
58,3
62
> 5000
8
16,7
11
22,9
19
Total
48
100
48
100
96

Tabel 2.   Perubahan sikap responden sebelum dan sesudah pemberian peer educator pada kelompok eksperimen, sebelum dan sesudah pemberian booklet pada kelompok kontrol pada siswa SDN 10 Panterik Banda Aceh Tahun 2014
.Kelompok
Kriteria
Sikap
Sebelum
Sesudah
p Value
F
%
F
%
Eksperimen
Negatif
34
70,8
8
16,7
0,000*
Positif
14
29,2
40
83,3
Total

48
100
48
100

Kontrol
Negatif
32
66,7
20
41,7
0,023*
Positif
16
33,3
28
58,3
Total

48
100
48
100




PEMBAHASAN
Hasil penelitian berdasarkan Mc. Nemar diketahui bahwa sikap responden sebelum dan sesudah pemberian peer educator pada kelompok eksperimen yakni, yang memiliki sikap sebelum perlakuan negatif dan sesudah perlakuan tetap negatif sebesar 6 responden, yang sebelum perlakuan memiliki sikap positif kemudian sesudah perlakuan berubah menjadi negatif sebesar 2 reponden, responden yang memiliki sikap sebelum perlakuan negatif kemudian berubah menjadi positif sesudah perlakuan sebesar 28 responden, dan reponden yang tetap memliki sikap positif baik sebelum maupun sesudah perlakuan sebesar 12 responden.
Dari tabel 2 juga dapat diketahui hasill uji Mc Nemar menggunakan bantuan spss versi 20.0 bahwa titik significant (0,000)< α (0,05), artinya H0ditolak, jadi terdapat perubahan yang bermakna pada kelompok yang diberikan perlakuan oleh peer educator, sehingga terdapat pengaruh peer educator terhadap perubahan sikap pemilihan jajanan sehat pada siswa SDN 10 Panterik Banda Aceh.
Dengan melihat hasil uji statistik dari kelompok eksperimen, dapat dijelaskan bahwa terdapat pengaruh pemberian peer educator terhadap sikap pemilihan jajanan sehat pada siswa SDN 10 Panterik Banda Aceh.
. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan seseorang yang dianggap penting, yang diharapkan persetujuannya bagi setiap gerak tingkah dan pendapat, seseorang yang tidak ingin kita kecewakan, atau seseorang yang berarti khusus, akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap terhadap sesuatu. Bagi seorang anak suatu persetujuan atau kesesuaian sikap sendiri dengan sikap kelompok sebaya adalah sangat penting untuk menjaga status afiliasinya dengan teman-teman, untuk menjaga agar ia tidak dianggap asing serta dikucilkan oleh kelompok. (Azwar, 2007).
Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya dari Dianita Fitriani bahwa edukasi sebaya efektif untuk mengubah sikap tentang PHBS cuci tangan Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat peningkatan rata-rata skor sikap yang bermakna antara sebelum dan sesudah diberikan edukasi sebaya pada kelompok intervensi (p value 0.000, alpha= 0.05).Peningkatan rata-rata skor sikap yang bermakna pada kelompok intervensi dipengaruhi oleh adanya pemberian edukasi sebaya oleh edukator sebaya dalam bentuk sharing, bermain dengan menggunakanmedia video dan materi permainan. Jika dibandingkan dengan hasil dari penelitian ini, berarti peer educator sama-sama mempunyai pengaruh terhadap sikap pemilihan jajanan sehat, baik siakap mengenai phbs cuci tangan maupun mengenai jajanan sehat. Hal tersebut dikarenakan perubahan sikap yang terjadi dalam penelitian ini, diperoleh sebagai dampak perubahan pengetahuan anak usia sekolah dari proses edukasi sebaya yang diperoleh. Proses edukasi sebaya yang dilakukan selama 4 minggu tersebut meningkatkan kontak atau interaksi yang terus menerus antar satu dan yang lainnya dalam anggota kelompok sebaya terutama di lingkungan sekolah, yang akhirnya mempengaruhi nilai anak usia sekolah. Peer educator adalah seseorang dari satu group yang sama yang menunjukkan peran sebagai pemberi edukasi untuk anggota yang lain yang bekekrja dengan dia atau sebagai kolega yang bertujuan mempengaruhi perubahan sikap dan perilaku (NACO, 2013).
Peer group menurut Vembrianto tahun 1992 merupakan istitusi sosial kedua sesudah keluarga yang memiliki peranan sangat penting bagi kehidupan anak dan remaja. Di dalam proses peer group terjadi proses belajar sosial, yaitu individu mengadopsi kebiasaan, sikap, ide, keyakinan, nilai-nilai dan pola-pola tingkah laku dalam masyarakat, serta mengembangkannya menjadi kesatuan sistem dalam dirinya. Selain itu, mereka juga bebas mengekspresikan sikap, penilaian, serta sikap kritisnya dan belajar mendalami hubungan yang sifatnya personal (Imron, 2012). Menurut BKKBN dan YAI tahun 2001, dalam konteks peer group, pendidikan kesehatan dilakukan melalui pendidik sebaya (peer educator). Pendidik sebaya adalah orang yang menjadi narasumber bagi kelompok sebayanya (Imron, 2012).
Pendidikan sebaya sering digunakan untuk mengubah tingkat perilaku pada individu dengan cara memodifikasi pengetahuan, sikap, keyakinan, atau perilaku seseorang. Namun, pendidikan sebaya juga dapat mempengaruhi perubahan di tingkat kelompok atau masyarakat dengan memodifikasi norma-norma dan merangsang tindakan kolektif yang mengarah pada perubahan program dan kebijakan yang ada dalam masyarakat (Astuti, 2013).
Sehingga untuk merubah sikap seseorang dalam penelitian ini adalah sikap pemilihan jajanan sehat dapat menggunakan peer educator sebagai role model serta dengan menggunakan metode-metode yang mudah dipahami oleh anak-anak.
Hasil penelitian  diketahui bahwa sikap responden sebelum dan sesudah pemberian booklet pada kelompok kontrol yakni, yang memiliki sikap sebelum perlakuan negatif dan sesudah perlakuan tetap negatif sebesar 15 responden, yang sebelum perlakuan memiliki sikap positif kemudian sesudah perlakuan berubah menjadi negatif sebesar 2 reponden, responden yang memiliki sikap sebelum perlakuan negatif kemudian berubah menjadi positif sesudah perlakuan sebesar 17 responden, dan reponden yang tetap memliki sikap positif baik sebelum maupun sesudah perlakuan sebesar 14 responden.
Dari tabel 2 juga dapat diketahui hasill uji Mc Nemar menggunakan bantuan spss versi 20.0 bahwa p value (0,023)< α (0,05), artinya H0 ditolak, jadi terdapat perubahan yang bermakna pada kelompok yang diberikan perlakuan berupa booklet, sehingga terdapat pengaruh booklet terhadap perubahan sikap pemilihan jajanan sehat pada siswa SDN 10 Panterik Banda Aceh.
Dengan melihat hasil uji statistik dari kelompok kontrol, dapat dijelaskan bahwa terdapat pengaruh pemberian booklet terhadap perubahan sikap pemilihan jajanan sehat pada siswa SDN 10 Panterik Banda Aceh.
. Hal tersebut dapat terjadi pemberian pengetahuan melalui booklet dapat meningkatkan pengetahuan pada anak sekolah yang menjadi dasar seseorang dalam membentuk sikap dalam dirinya namun tidak seperti peer educator yang banyak menglami peningkatan.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yakni pada penelitian Hayati kelompok kontrol terjadi penurunan rata-rata skor sikap yang bermakna antara sebelum dan sesudah penelitian (p value 0.00, alpha= 0.05) namun tetap terjadi perubahan sikap yang bermakna anatara sebelum dan sesudah penelitian (Fitriani, 2009).
Dengan melihat perbedaan sikap antara sebelum dan sesudah pemberian perlakuan baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol, berarti dapat dikatakan pemberian peer educator maupun booklet berpengaruh terhadap perubahan sikap pemilihan jajanan sehat pada siswa SDN 10 Panterik Banda Aceh.
. Namun pemberian peer educator lebih efektif jika dibandingkan dengan hanya pemberian booklet.

SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan :
Terdapat pengaruh pemberian peer educator terhadap sikap pemilihan jajajnan serhat pada siswa SDN 10 Panterik Banda Aceh.
Perubahan sikap yang bermakna pada kelompok intervensi dipengaruhi oleh adanya pemberian edukasi sebaya oleh edukator sebaya dalam bentuk sharing, bermain dengan menggunakan media video dan materi permainan. Sehingga siswa lebih mampu menyerap materi yang disampaikan. Sehingga semakin diberikan peer educator maka semakin bisa merubah sikap menuju ke arah yang positif.

Saran :
Bagi Peer educator
Diharapkan kegiatan peer educator ini tetap dilaksanakan walaupun kegiatan penelitian sudah berakhir. Untuk mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku teman sebaya mereka yang negatif menjadi positif. Sehingga membutuhkan foolow up dikarenakan untuk mengubah sikap dan perilaku memerlukan waktu yang panjang untuk itulah diharapkan peer educator tetap berfungsi sebagaimana mestinya dalam memberikan edukasi sebaya .

Bagi Petugas Kesehatan
Diharapkan peer educator dijadikan salah satu alternatif tindakan keperawatan komunitas yang dapat digunakan oleh perawat untuk menjangkau promosi kesehatan di setting sekolah.

Bagi Tempat Penelitian
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan data dasar dan menambah referensi bagi pihak sekolah dalam mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku negatif dari anak didik untuk menjadi positif. Dan diharapakan memberikan sistem keamanan untuk siswanya serta memebrikan kebijakan kepada siswa dan orang tua siswa untuk membawa bekal makanan ke sekolah sehingga keamanan jajanan siswa terjamin.

Bagi Peneliti Selanjutnya
Dikarenakan pada penelitian ini pemberian peer educatorhanyaberlangsung selama 4 minggu. Diharapkan penelitian ini dilakukan secara berkelanjutan, sehingga efek dari peer educator terhadap perubahan sikap pada siswa SD dalam memilih jajanan sehat dapat diketahui lebih jelas.
Untuk penelitian selanjutnya yang terkait dengan judul penelitian ini, diharapkan tidak hanya sampai meneliti sebatas sikap dari siswa tetapi sampai dengan perilaku dari siswa.
Dikarenakan pada penelitian ini, pengawasan yang dilakukan peneliti terhadap responden yang melaksanakan peer educator beberapa hari saja, maka untuk penelitian yang terkait dengan penelitian ini diharapkan agar peneliti mengawasi responden setiap kegiatan dalam melaksanakan peer educator agar peer educator  dan responden dapat melaksanakan kegiatan edukasi sebaya sesuai dengan prosedur yang ada.
    
DAFTAR PUSTAKA

Adams, M. 2004. Dasar-Dasar Keamanan Makanan. Jakarta : EGC.
Afandi, A. T. 2012. Pengaruh Peer Group Support terhadap Perilaku Jajanan Sehat Siswa Kelas 5 SDN Ajung 2 Kalisat Jember. Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Kampus C Surabaya , 2. http://journal.unair.ac.id/filerPDF/Alfid%20Tri%20A.doc diakses pada tanggal 25 Desember 2013.
ALPI. 2011. BPOM Keluarkan Panduan Keamanan Pangan Jajajnana Anak Sekolah. Asosiasi Laboratorium Pangan Indonesia. http://www.alpindonesia.org/index1.php?view&id=481 diakses tanggal 5 Januari 2011.
Aprilia, B. A. 2011. Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemilihan Makanan Jajanan Pada Anak Sekolah Dasar . Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. http://eprints.undip.ac.id/32606/1/403_Bondika_Ariandani_aprillia_G2C007016.pdf diakses pada tanggal 25 Desember 2013.
Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Arisman. 2009. Keracunan Makanan. Jakarta: EGC.
Astuti, A. S. 2013. Peranan Peer Educator dalam Mengendalikan Konsumsi Rokok untuk Perencanaan Program Promosi Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. http://fhuiguide.files.wordpress.com/2013/03/contoh-dan-penjelasan-pkm-artikel-ilmiah-inti.pdf diakses pada tanggal 26 Desember 2013.
Azwar, S. 2007. Sikap Manusia . Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Azwar, S. 2011. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
BPOM RI. 2009. Prosiding Lokakarya Jejaring Intelijen Pangan Program Nasional Peningkatan Keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Deputi Bidang Pengawasan Keamanana Pangan dan Bahan Berbahaya Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan. www2.pom.go.id/surv/events/jippjas23juli.pdf diakses pada tanggal 30  Desember 2013.
Cahyaningsih, D. S. 2011. Pertumbuhan Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: Trans Info Media.
Dahlan, M. S.  2009. Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika.
Dahlan, M. S. 2010. Membuat Proposal Penelitian Bidang Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: CV Sagung Seto.
Depkes RI.  2011. Hati-Hati Jangan Jajan Sembarangan. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. www.gizikia.depkes.go.id diakses pada tanggal 2 Januari 2014 .
Fajri, W. 2013. Sebab dan cara Cegah Kontaminasi Makanan . www.kompas.com diakses pada tanggal 2 Januari 2014.
Fitriani, D. 2011.  Pengaruh Edukasi Sebaya terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Pada Agregat Anak Usia Sekolah yang Beresiko Kecacingan di Desa Baru Kecamatan Manggar Belitung Timur. Tesis Fakultas Ilmu Keperawatan Program Magister Ilmu Keperawatan Pemunatan Keperawatan Komunitas Universitas Indonesia Jakarta.http:// lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20280655-T%20Dianita%20Fitriani.pdf diakses pada tanggal 25  Desember 2013.
Fitriani, S. 2011. Promosi Kesehatan . Yogyakarta: Graha Ilmu.
Ford and colier. 2006. How to Use Peer Education for Suistainability.  SidneySouth: Departemen of Environment and Conservation NSW www.tissues.com.au/slippery.pdf diakses pada tanggal 26  Desember 2013.
Ginanjar. N. S. 2009. Hubungan Pelatihan dan Lingkungan Kerja dengan Kinerja Karyawan Front Office di Novotel Nusa Dua Bali. http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/122657-T+25839-hubungan+pelatihan-.pdf. Diakses pada tanggal 18 Maret 2014
Hidayat, A. A. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data . Jakarta: Salemba Medika.
                       . 2008. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika.
                       . 2010. Paradigma Kuantitatif. Surabaya : Health Book Publishing.
Hurlock, E. B. 2010. Psikologi Perkembangan Suatu Pendektan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Imron, A. 2012. Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta: Ar-Ruzz Media.
Ishadi.  2007. Mendidik Dokter Kecil . Surabaya : Duta Graha Pustaka.
Judarwanto, W.  2006. Perilaku Makan Anak Sekolah.,  Pusat Data dan Informasi Persi: www.pdpersi.co.id diakses pada tanggal 27 Desember 2013.
Kartika, U. 2013.. Pentingnya Awasi Jajanan Anak Di Sekolah. www.kompas.com . Diakses tanggal 28 Desember 2013.
Kartono, Kartini. 2007. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Bandung: Mandar Maju
Kozier.  2010. Fundamental Keperawatan . Jakarta : EGC .
Ladauda, A. 2011. Pengaruh Makanan Jajanan Terhadap Perkembangan. Teachers College Universitas Pelita Harapan. https://docs.google.com/document/d/1Mbzgfgv-DJpt4pexpKsfXUsV6ttGNgipb1V63nlSiss/edit?pli=1 diakses pada tanggal 25 Desember 2013
LPPM. 2013. Buku Panduan Penyusunan KTI dan Skripsi. Mojokerto: LPPM Stikes Bina Sehat PPNI Mojokerto.
Maulana, H. D. 2009. Promosi Kesehatan . Jakarta: EGC.
McDonald, J. 2003. Peer Education From Evidance to Practice. University of South Australia. National Center For Education and Training on Addiction (NCETA), from www.nceta.flinder.edu.au diakses pada tanggal 1 Januari 2014.
Mead, M. 2013. Module I. from Peer Education: http://www.unodc.org/pdf/youthnet/action/message/escap_peers_01.pdf diakses pada tanggal 1 Januari 2014.
NACO. 2013. Training Module for Peer Educator. Natinal Aids Control Organisation. Ministry of Health an Family Welafare Government of India. http://naco.gov.in/upload/NGO%20&%20Targeted/Capacity%20Building/PE%20modules/PE%20Manual.pdf  diakses pada tanggal 8 Januari 2014.
Notoatmodjo, S.  2010. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S.  2011. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta.
                         . 2007. Kesehatan Masyarakat . Jakarta : Rineka Cipta.
                         . 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan . Jakarta: Rineka Cipta.
                         . 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penellitian Ilmu Keperawatan . Jakarta: Salemba Medika.
Purwantiningsih, e. 2006. Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemilihan Jenis Makanan Jajanan Di Sekolah Studi Pada Siswa SDN Gemolong 2 Kecamatan Gemolong Kabupaten Sragen Tahun 2006. http://eprints.undip.ac.id/9154/. Diakses tanggal 20 Februari 2014.

Savitri, R. 2009. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Konsumsi Makanan Jajanan yang Mengandung Pewarna Sintetik pada Siswa Kelas Viii Dan IX Sekolah Menengah Pertama (Smp) Pgri 1 Dan Smp Ymj Ciputat Tahun 2009. Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Program Studi Kesehatan Masyarakat. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. http://perpus.fkik.uinjkt.ac.id/file_digital/Skripsi%20Rahma%20Savitri.pdf. Diakses tanggal 20 Februari 2014.

Sediaoetama, A. D.  2010. Ilmu Gizi . Jakarta : Dian Rakyat.
Simmons. 2010. Simmons Community. Retrieved Januari 10, 2014, from Peer Educator for the EAT/Betsy’s Friends/SEX/ Drugs and Alcohol/Stress and Time Management/Sexual Assault/HIV/AIDS @ Simmons Program: http://www.simmons.edu/campuslife/docs/PE_job_descriptions_10.pdf diakses pada tanggal 2 Januari 2014.
Sudarmawan. 2013. Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Mengenai Pemilihan Jajanan dengan Perilaku Anak Memilih Jajanan di SDN Sambikerep ii/480 Surabaya. Artikel fakultas Ilmu Keolahragaan Jurusan Pendidikan Olahraga Program Studi S-1 Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Universitas Negeri Surabaya. http://ejournal.unesa.ac.id/data/journals/68/articles/1770/public/1770-3342-1-PB.pdf diakses pada tanggal 25 Desember 2013.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfa Beta.
Sugiyono. 2013. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfa Beta
Sulistyaningsih.  2011. Metodologi Penelitian Kebidanan Kuantitatif Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu .
Viarni, E. 2013. Praktek Konsumsi Makanan Jajanan Pada Siswa Di SMP Negeri 4 Tasikmalaya Tahun 2013. Fakultas Ilmu Kesehatan Peminatan Gizi Kesehatan Universitas Siliwangi . http://journal.unsil.ac.id/download.php?id=1353. Diakses pada tanggal 24 Desember 2013
Widiyani, R. 2013. Kenapa Anak Suka Jajan.www.kompas.com. diakses tanggal 28 Desember 2013.
Wong, D. L. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC.
Yuliarti, N. 2007. Awas! Bahaya Dibalik Lezatnya Makanan . Yogyakarta: CV Andi Offset.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar